Daftar isi
Lebih dari 4,2 miliar manusia di bumi hari ini mengidentifikasi diri sebagai pengikut agama Abrahamik, di mana mayoritas didominasi oleh penganut Kristen dan Islam. Ketika ditanya apakah keduanya menyembah Sosok yang sama, jawaban jujurnya adalah: secara historis dan ontologis ya, namun secara teologis dan konseptual memiliki perbedaan mendasar yang sangat signifikan. Keduanya memuja Sang Pencipta Yang Maha Esa yang dipuji oleh Nabi Ibrahim, namun cara memandang hakikat, sifat, serta penyataan-Nya berseberangan secara fundamental.
Akar Sejarah dan Silsilah Tradisi Monoteisme Abrahamik
Secara silsilah sejarah dan literatur keagamaan, baik Kekristenan maupun Islam berakar langsung pada tradisi monoteisme yang diperkenalkan oleh Bapa Ibrahim atau Abraham. Islam merujuk pada silsilah garis keturunan Ismail, sementara Kekristenan meneruskan tradisi Yudaisme melalui garis keturunan Ishak. Konsep dasar mengenai Satu Tuhan yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan (ex nihilo), yang memberikan hukum moral, serta berfirman melalui nabi-nabi, merupakan benang merah yang mengikat kedua iman besar ini.
Bahkan dari sudut pandang etimologi bahasa Semit, kata "Allah" dalam bahasa Arab bersumber dari akar kata linguistik yang sama dengan "Eloah" atau "Elohim" dalam bahasa Ibrani kuno serta "Alaha" dalam bahasa Aramaik—bahasa ibu yang dituturkan oleh Yesus Kristus. Oleh karena itu, bagi masyarakat Arab di Timur Tengah sejak zaman pra-Islam hingga saat ini, baik yang beragama Kristen maupun Muslim, kata "Allah" merujuk pada Tuhan Yang Maha Esa yang satu dan sama. Perbedaan tidak terletak pada nama linguistik tersebut, melainkan pada konstruksi teologis yang terbangun di atasnya.
Langkah demi Langkah Memahami Perbedaan Konseptual Kedua Agama
Untuk memahami bagaimana konsep pemahaman tentang Tuhan bergenerasi dan memisah, kita perlu meneliti alur perbedaannya secara bertahap:
Pertama, pemahaman tentang hakikat ESA (Monoteisme). Dalam Islam, konsep ini diwujudkan melalui Doktrin Tauhid yang mutlak (Tauhidullah). Tuhan adalah Esa secara mutlak, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya (Sura Al-Ikhlas). Segala bentuk atribusi kemanusiaan atau pembagian pribadi dianggap merusak kemurnian tauhid.
Kedua, penyataan diri melalui Doktrin Tritunggal dalam Kekristenan. Bagi umat Kristen, Allah yang Satu itu menyatakan diri-Nya dalam tiga pribadi yang sehakikat: Bapa, Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus. Konsep ini bukan berarti menyembah tiga tuhan (Politeisme atau Tritisme), melainkan satu esensi ilahi dalam tiga relasi pribadi. Monoteisme Kristen bersifat kompleks, di mana Allah menyatakan kasih-Nya yang sempurna melalui perwujudan Sang Firman yang menjadi manusia.
Ketiga, media wahyu utama. Dalam ajaran Islam, wahyu tertinggi dan terakhir dari Allah adalah berbentuk teks tulisan, yaitu Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sebaliknya, dalam ajaran Kekristenan, wahyu tertinggi dari Allah bukanlah sebuah kitab, melainkan Pribadi Yesus Kristus itu sendiri (Sang Firman yang Menjadi Daging).
Studi Kasus: Tokoh Nabi Isa dan Yesus Kristus
Perbedaan paling nyata dalam cara pandang Islam dan Kristen terhadap Tuhan dapat dirangkum melalui studi kasus tentang bagaimana kedua agama memandang sosok Yesus (Isa Al-Masih). Tokoh yang sama ini menduduki posisi puncak dalam konstruksi iman kedua belah pihak, tetapi dengan kapasitas yang bertolak belakang.
Dalam teologi Islam, Nabi Isa AS adalah salah satu nabi dan rasul paling agung (Ulul Azmi) yang sangat dihormati. Beliau lahir dari Perawan Maryam atas mukjizat Allah, menerima kitab Injil, dan mengajarkan tauhid. Namun, Islam secara tegas menolak gagasan bahwa Isa adalah Anak Allah atau memiliki sifat keilahian. Menganggap Isa sebagai Tuhan dianggap tindakan syirik yang melanggar hukum utama.
Sebaliknya, dalam teologi Kristen, Yesus bukan sekadar nabi atau utusan. Dia adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (Inkarnasi) untuk menebus dosa umat manusia melalui kematian di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Jika seorang Kristen menyembah Yesus, mereka menyembah Allah itu sendiri. Perbedaan radikal dalam memandang Sosok Yesus inilah yang memperlihatkan bahwa meskipun mengacu pada Tuhan Ibrahim yang sama, gambaran karakter dan cara Tuhan menyelamatkan manusia diyakini secara amat berbeda.
Pandangan Para Ahli Kebudayaan dan Agama
Diskusi mengenai kesamaan Tuhan dalam ajaran Kristen dan Islam telah lama menjadi topik hangat di kalangan akademisi. Para ahli sosiologi agama dan teologi komparatif umumnya melihat persoalan ini dari dua sudut pandang utama: kesamaan historis-genealogis dan perbedaan teologis-sosiologis.
Dari sisi sejarah, mayoritas sejarawan sepakat bahwa kedua agama ini berbagi akar tradisi Abrahamik yang sama. Keduanya mengakui satu Sosok Maha Pencipta yang mengutus para nabi dan menyampaikan wahyu kepada manusia. Namun, para teolog juga menekankan bahwa konsep pemahaman mengenai Tuhan mengalami perbedaan mendasar. Kristen memahami Tuhan dalam konsep Tritunggal yang menekankan aspek kasih dan inkarnasi, sedangkan Islam memegang teguh konsep Tauhid murni yang menekankan keesaan mutlak tanpa sekutu. Oleh karena itu, para ahli menyimpulkan bahwa jawaban dari pertanyaan ini sangat bergantung pada aspek mana yang menjadi fokus kajian, apakah silsilah sejarahnya atau doktrin penganutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah nama "Allah" hanya milik umat Islam?
Secara etimologi dan sejarah bahasa, kata Allah adalah bahasa Arab untuk menyebut Tuhan secara umum. Jauh sebelum terbitnya ajaran Islam, komunitas Kristen Arab dan Yahudi di Timur Tengah sudah menggunakan kata ini dalam ibadah harian mereka. Hingga hari ini, umat Kristen di berbagai belakang dunia, termasuk di kawasan Arab dan Indonesia, tetap menggunakannya dalam Alkitab dan doa.
Mengapa konsep Tuhan dalam kedua agama ini sering dipandang berbeda secara ekstrem?
Perbedaan pandangan ini sebagian besar dipicu oleh perbedaan doktrin inti mengenai hakikat Tuhan dan cara Dia menyatakan diri kepada manusia. Dalam ajaran Kristen, Tuhan diyakini hadir melalui Yesus Kristus sebagai jalan keselamatan, sementara dalam Islam, Tuhan menyampaikan firman-Nya secara utuh melalui Kitab Suci Al-Qur'an dengan Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi. Perbedaan medium dan teks suci inilah yang membentuk cara pandang dan ritual ibadah yang sangat khas pada masing-masing pemeluknya.
Pertanyaan untuk Anda
Jika secara sejarah kedua tradisi ini bermuara pada akar yang sama namun berkembang dengan pemahaman teologis yang berbeda, apakah perbedaan tersebut harus menjadi tembok pemisah, atau justru menjadi sarana untuk saling memahami keberagaman pengalaman spiritual manusia?
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.