Menyingkap Tabir Keharmonisan Kosmis: Filosofi Penghormatan Pohon di Bali (Bagian 1)

Bagi wisatawan atau pengamat luar yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Dewata, pemandangan pohon-pohon besar yang dibelit kain bermotif papan catur hitam-putih—dikenal sebagai kain poleng—serta berhiaskan sesajen di sekitarnya mungkin memunculkan tanda tanya besar. Pertanyaan seperti "kenapa orang Bali menyembah pohon?" sering kali dilontarkan dengan sudut pandang modern yang keliru. Padahal, apa yang sekilas tampak sebagai bentuk penyembuhan atau pemujaan terhadap objek fisik, sebenarnya merupakan manifestasi mendalam dari filosofi teologis, ekologis, dan kosmologis masyarakat Hindu di Bali.

Untuk memahami tradisi ini secara utuh, kita harus melepaskan diri dari definisi sempit kata "menyembah" dan menyelami konsep hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam kearifan lokal Bali.

Salah Kaprah Konsep "Menyembah" Pohon

Dalam teologi Hindu Bali, umat tidak menyembah pohon sebagai entitas material yang berdiri sendiri. Pandangan bahwa orang Bali menyembah pohon adalah sebuah reduksi makna yang keliru. Yang disembah bukanlah kayu, daun, atau akar dari pohon tersebut, melainkan manifestasi Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) yang berstana atau memancarkan energi kekuatannya pada tempat-tempat tertentu, termasuk tumbuh-tumbuhan berukuran besar.

Masyarakat Bali mengenal konsep Tattwa (filosofi) dan Susila (etika) di mana alam semesta dipandang sebagai tubuh makrokosmos dari Tuhan. Dalam hal flora, umat Hindu meyakini adanya dewa pemelihara tumbuh-tumbuhan, yaitu Sang Hyang Sangkara (atau Hyang Wiana). Oleh karena itu, ketika seseorang melihat masyarakat Bali menghaturkan banten (sesajen) di bawah pohon, pemujaan tersebut sebenarnya ditujukan kepada Hyang Sangkara sebagai penguasa sumber kehidupan vegetasi, serta penghormatan kepada manifestasi-Nya yang menjaga keseimbangan ekosistem.

Pohon sebagai "Saudara Tua" dan Manifestasi Kehidupan

Dalam sistem pengetahuan tradisional Bali, tumbuh-tumbuhan sering kali dicitrakan sebagai "saudara tua" bagi manusia. Logika di balik pandangan ini sangat saintifik sekaligus spiritual: tumbuhan lebih dulu hadir di muka bumi dan menyediakan seluruh kebutuhan esensial agar manusia dapat bertahan hidup, mulai dari oksigen, pangan, sandang, obat-obatan, hingga material tempat tinggal.

Manusia berutang budi yang sangat besar kepada alam, khususnya dunia tumbuh-tumbuhan. Kesadaran akan ketergantungan mutlak inilah yang melahirkan etika timbal balik. Hubungan antara manusia dan pohon bukan hubungan eksploitatif di mana alam hanya dilihat sebagai komoditas mati yang bebas dikeruk, melainkan hubungan subjek-subjek yang saling menghormati.

Penghormatan ini dilembagakan melalui siklus kalender Bali yang sakral. Salah satu contoh nyata adalah perayaan Tumpek Wariga (atau Tumpek Bubuh). Pada hari suci ini, masyarakat Bali secara khusus melakukan upacara ritual untuk tumbuh-tumbuhan. Pohon-pohon disapa dengan penuh kasih sayang, diberi bubur warna-warni, dan diupacarai seolah-olah mereka adalah makhluk hidup yang memiliki perasaan. Filosofinya sederhana: tanaman yang dirawat, disapa dengan baik, dan dihormati eksistensinya dipercaya akan tumbuh subur dan memberikan hasil buah yang baik demi kelangsungan hidup manusia.

Kain Poleng dan Batas Sakral (Secara Spiritual dan Ekologis)

Alasan lain mengapa pohon-pohon tertentu di Bali dikeramatkan berkaitan erat dengan fungsi ekologis dan mitologi lokal. Pohon-pohon tua berukuran masif seperti beringin (bingin), pule, atau kepuh sering kali diasosiasikan sebagai tempat yang memiliki energi spiritual yang kuat atau angker.

Pemasangan kain poleng (hitam-putih) pada batang pohon memiliki makna filosofis mendalam tentang Rwa Bhineda, konsep keseimbangan dua kekuatan alam yang berlawanan namun tak terpisahkan, seperti terang dan gelap, baik dan buruk, serta suka dan duka. Kain poleng tersebut berfungsi sebagai penanda visual bahwa area di sekitar pohon tersebut adalah kawasan yang disucikan dan dilindungi.

Secara tidak langsung, mitos kesakralan pohon ini menjadi instrumen konservasi lingkungan yang sangat ampuh. Nenek moyang Bali menggunakan pendekatan spiritual agar masyarakat tidak sembarangan menebang pohon-pohon besar yang memiliki fungsi vital sebagai penyerap air tanah, penjaga kestabilan lereng, dan paru-paru lingkungan. Dengan mempercayai bahwa pohon-pohon tersebut dijaga oleh kekuatan spiritual atau roh leluhur, kelestarian hutan dan pohon-pohon tua tetap terjaga secara turun-temurun tanpa perlu undang-undang penebangan modern yang rumit.

Keselarasan Hidup: Menjaga Alam Lewat Warisan Leluhur

Wujud Nyata Konservasi Melalui Tradisi

Pandangan keliru seringkali mengartikan tradisi memperlakukan pohon dengan kain bermotif catur (poleng) atau memberikan sesajen sebagai bentuk "penyembahan" yang bersifat menyekutukan Tuhan. Padahal, jika dikaji secara mendalam dari sudut pandang filosofis masyarakat Bali, praktik ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi terhadap manifestasi Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dalam hal penciptaan alam, khususnya manifestasi sebagai Dewa Sangkara yang menguasai tumbuh-tumbuhan.

Salah satu implementasi konkret dari kearifan lokal ini terlihat jelas dalam perayaan Tumpek Wariga (atau yang sering disebut Tumpek Uduh/Bubuh). Pada hari suci tersebut, masyarakat Bali tidak menyembah pohon sebagai entitas mandiri yang berdiri sendiri, melainkan memanjatkan doa dan memberikan ungkapan kasih sayang kepada tumbuh-tumbuhan agar berbuah lebat dan tetap lestari. Ritual ini diiringi dengan dialog simbolis yang sarat makna, di mana manusia memohon agar pohon-pohon tersebut "hidup subur" dan turut memberikan manfaat berkelanjutan bagi kehidupan makhluk lain.

Relevansi Filosofi Tri Hita Karana di Era Modern

Tradisi luhur ini sejalan sepenuhnya dengan konsep Tri Hita Karana, yakni tiga pilar utama penyeimbang kebahagiaan hidup yang mencakup hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam lingkungan (Palemahan). Pohon-pohon besar yang dikeramatkan dan dibalut kain poleng secara psikologis dan sosiologis berfungsi sebagai zona larangan adat. Tanpa perlu pagar beton atau undang-undang yang rumit, masyarakat secara sadar akan menghindari tindakan semبرangan seperti penebangan liar di area tersebut demi menjaga kesakralannya.

Dengan kata lain, apa yang tampak di permukaan sebagai ritual "menyembah pohon" sejatinya adalah instrumen ekologis yang jenius. Leluhur Bali berhasil merumuskan cara agar penjagaan lingkungan, konservasi sumber air, dan perlindungan hutan dapat berjalan secara efektif melalui pendekatan spiritual yang mengakar kuat di dalam jiwa masyarakatnya. Di tengah krisis iklim global saat ini, esensi dari penghormatan masyarakat Bali terhadap pohon justru menawarkan pelajaran berharga: bahwa alam bukanlah sekadar objek eksploitasi, melainkan mitra sejati bagi kelangsungan hidup umat manusia di bumi.