Tahukah Anda bahwa sebuah kerajaan besar yang pernah berdiri kokoh selama berabad-abad di tanah parahyangan kini seolah lenyap ditelan zaman tanpa meninggalkan sisa istana yang utuh? Kerajaan Sunda bukan sekadar cerita dongeng masa lalu, melainkan entitas politik agung yang menguasai bagian barat pulau Jawa. Keruntuhannya bukanlah sebuah kecelakaan sejarah yang terjadi begitu saja, melainkan puncak dariakumulasi tekanan geopolitik, perebutan hegemoni maritim, dan pergeseran kekuatan regional yang sangat brutal di penghujung abad keenam belas.

Akar Sejarah dan Kejayaan Awal Pajajaran di Tanah Pasundan

Beralih ke masa lampau, akar berdirinya Kerajaan Sunda terbentang jauh dari era Tarumanagara hingga mencapai masa keemasannya di bawah panji Pakuan Pajajaran. Ibu kota yang berlokasi di wilayah Bogor modern ini dulunya merupakan pusat peradaban yang sibuk, dikelilingi oleh benteng pertahanan alam berupa sungai-sungai besar dan topografi pegunungan yang terjal. Raja-raja Sunda membangun legitimasi mereka berdasarkan konsep dewa-raja serta kearifan lokal yang menjunjung tinggi keharmonisan kosmis antara manusia dan alam sekitar.

Dalam catatan sejarah kuno seperti naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, masyarakat Sunda kuno dikenal memiliki sistem tata kota, stratifikasi sosial yang tertib, serta jaringan perdagangan agraris yang terintegrasi dengan pelabuhan-pelabuhan penting di pesisir utara. Pelabuhan seperti Sunda Kelapa, Banten, dan Cimanuk menjadi titik nadi ekonomi yang sangat vital. Kapal-kapal asing dari berbagai penjuru dunia datang berlabuh, membawa komoditas unggulan seperti lada, beras, dan hasil hutan berkualitas tinggi yang membuat kerajaan ini disegani di kawasan Asia Tenggara.

Dinamika Politik dan Runtuhnya Hegemoni Sunda di Pesisir

Namun, roda sejarah berputar tanpa kenal kompromi ketika kekuatan baru mulai merangsek naik dari arah barat dan timur. Proses keruntuhan bermula dari melemahnya cengkeraman kekuasaan pusat Pakuan Pajajaran terhadap kota-kota pelabuhan niaga di pesisir utara. Kesultanan Demak yang berekspansi di bawah pimpinan tokoh-tokoh militer ulung melihat peluang emas untuk memotong jalur logistik dan ekonomi Kerajaan Sunda demi kepentingan dakwah serta dominasi perdagangan Islam.

Langkah strategis diambil ketika Fatahillah bersama pasukan gabungan Demak dan Cirebon merebut Sunda Kelapa pada tahun 1527, mengubah namanya menjadi Jayakarta. Kehilangan pelabuhan utama ini berdampak fatal terhadap stabilitas finansial kerajaan. Pajajaran terisolasi secara ekonomi, pasokan senjata serta barang impor tersendat, dan otoritas raja di pedalaman mulai dipertanyakan oleh para adipati daerah yang merasa tidak lagi dilindungi oleh pusat kekuasaan.

Detik-Detik Terakhir Pakuan Pajajaran dalam Catatan Naskah Kuno

Sebagai ilustrasi nyata dari keruntuhan tersebut, mari kita bedah peristiwa penyerbuan terakhir yang dicatat dalam naskah babad dan tradisi lisan Sunda. Ketika Kesultanan Banten di bawah pimpinan Maulana Yusuf tumbuh menjadi kekuatan militer yang dominan, mereka melancarkan serangan pamungkas ke jantung ibu kota Pakuan Pajajaran pada penghujung abad keenam belas. Pasukan Banten tidak menghadapi perlawanan berarti karena sebagian besar prajurit Sunda telah tercerai-berai akibat krisis pangan dan konflik internal yang berkepanjangan.

Kisah tragis ini mencapai puncaknya ketika istana direbut dan benda-benda pusaka kerajaan diboyong ke Banten sebagai simbol penyerahan kedaulatan mutlak. Peristiwa ini menandai berakhirnya riwayat politik Kerajaan Sunda secara resmi. Rakyat yang selamat mengungsi ke pedalaman, membawa serta ingatan kolektif tentang kejayaan masa lalu yang kemudian diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan, pantun, dan naskah lontar hingga hari ini.

What experts say about it

Para sejarawan dan ahli arkeologi berpendapat bahwa runtuhnya Kerajaan Sunda bukan disebabkan oleh satu kejadian tunggal semata, melainkan akumulasi dari tekanan politik geopolitik regional dan pergeseran jalur perdagangan internasional di Nusantara. Menurut pandangan akademis, mundurnya dominasi Sunda sangat berkaitan erat dengan jatuhnya pelabuhan-pelabuhan penting ke tangan kekuatan baru yang berkembang pesat di wilayah pesisir utara Jawa.

Ahli sejarah mencatat bahwa isolasi ekonomi akibat terkuncinya akses maritim membuat ibu kota kerajaan di Pakuan Pajajaran kehilangan sumber pendapatan utama dari pajak pelabuhan. Ditambah lagi dengan dinamika pergantian kekuasaan yang kurang stabil di internal istana pada dekade-dekade akhir, struktur pertahanan menjadi rapuh. Ketika gelombang ekspansi dari Kesultanan Banten datang menyerang pada tahun 1579 M, kerajaan sudah berada dalam titik nadir sehingga tidak mampu lagi mempertahankan eksistensinya.

Frequently Asked Questions

Mengapa Kesultanan Banten menyerang Kerajaan Sunda yang masih memiliki hubungan darah?

Meskipun terdapat ikatan kekerabatan dan garis keturunan antara penguasa Sunda dan Banten, faktor politik, perbedaan orientasi keyakinan, serta perebutan kontrol atas jalur perdagangan strategis menjadi pemicu utama konflik. Di masa itu, ambisi penguasa pesisir untuk menyatukan wilayah bawah kendali politik Islam serta mengamankan hegemoni maritim mengalahkan pertimbangan hubungan keluarga, sehingga penaklukkan militer dianggap sebagai langkah mutlak untuk mengakhiri dualisme kekuasaan di Tatar Sunda.

Apa tanda fisik atau simbol yang menandai berakhirnya riwayat Kerajaan Sunda secara resmi?

Akhir dari kedaulatan Kerajaan Sunda ditandai secara simbolis dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana, yaitu batu penobatan atau singgahsana raja dari kompleks keraton di Pakuan Pajajaran menuju Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan pimpinan Maulana Yusuf. Tindakan pemindahan batu sakral ini memiliki makna politik yang sangat kuat agar di ibu kota lama tidak pernah bisa lagi dilantik seorang raja baru dari garis keturunan Sunda kuno.

Jika seluruh peradaban besar dan benteng pertahanan terkuat pada akhirnya bisa runtuh akibat perubahan zaman, apa yang sebenarnya membuat sebuah identitas budaya mampu bertahan melampaui usia kerajaannya sendiri?