Memahami Panggilan Hidup Tidak Menikah dalam Gereja Katolik
Dalam tradisi dan ajaran Gereja Katolik, status seseorang yang memilih atau dipanggil untuk tidak menikah memiliki sebutan khusus.
Pengertian Dasar: Selibat
Istilah paling utama untuk mendefinisikan orang yang tidak menikah dalam konteks Katolik adalah selibat.
Akan tetapi, dalam teologi dan praktik Gereja Katolik, selibat bukan sekadar status lajang biasa karena menunda atau belum menemukan jodoh. Selibat adalah sebuah panggilan hidup suci yang diambil secara bebas, sadar, dan sukarela demi menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan serta melayani sesama.
Klasifikasi Orang yang Hidup Selibat dalam Katolik
Panggilan tidak menikah ini diwujudkan melalui beberapa bentuk nyata di dalam struktur Gereja Katolik.
Kaum Klerus (Imam/Pastor, Uskup, dan Diakon tertentu): Dalam Gereja Katolik Ritus Latin, para pria yang menerima tahbisan suci diwajibkan untuk hidup selibat seumur hidup sebagai tanda penyerahan total meniru Kristus sang Imam Agung.
Biaran dan Biarawati (Kaum Religius): Mereka adalah para bruder, suster, atau frater yang tergabung dalam tarekat atau kongregasi religius tertentu.
Selain hidup selibat, mereka mengikrarkan tiga kaul kebiaraan, yaitu kaul kemurnian, kaul kemiskinan, dan kaul ketaatan. Selibat Awam: Ini adalah bentuk panggilan unik di mana seseorang tetap hidup di tengah masyarakat umum sebagai kaum awam (bukan biarawan/biarawati atau imam), namun secara sukarela memilih untuk tidak menikah demi mendedikasikan hidup sepenuhnya bagi karya pelayanan gerejawi dan misi kemanusiaan.
"Selibat bukanlah bentuk penolakan terhadap nilai luhur perkawinan, melainkan sebuah bentuk penghayatan radikal terhadap tanda Kerajaan Surga yang akan datang, di mana manusia hidup dalam kesatuan penuh dengan Allah."
Video di atas menjelaskan secara mendalam mengenai selibat awam sebagai salah satu bentuk panggilan hidup tidak menikah di luar kaum klerus dan biara dalam Gereja Katolik.

Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.