Pena. Nur Muhammad. 'Arsy. Air. Mana yang benar-benar berdiri di garis awal penciptaan? Jawaban singkatnya: para ulama besar berbeda pendapat, namun mayoritas muqallid dan muhaqqiq menunjuk 'Arsy atau Al-Qalam (Pena) sebagai mahakarya perdana yang Allah wujudkan dari ketiadaan. Pertanyaan filosofis sekaligus teologis ini telah memicu diskusi intelektual yang amat sengit selama berabad-abad di kalangan fuqaha, muhadditsin, dan pakar kalam, membuka pintu kontemplasi mendalam mengenai hakikat eksistensi kosmik dan hierarki keberadaan sebelum wujudnya ruang dan waktu.

Landasan Teologis dan Trajektori Historis Debat Klasik

Memahami entitas pertama yang Allah ciptakan menuntut kita menyelami samudra hadis Nabawi dan atsar para sahabat dengan pisau analisis hermeneutika yang tajam. Polarisasi pemikiran ini bukan sekadar perdebatan linguistik belaka, melainkan cerminan dari kompleksitas metodologi pemahaman teks-teks eskatologis. Ibnu Taimiyah, dalam karya monumental beliau, secara rinci mengurai bagaimana teks-teks sahih memberikan petunjuk yang sekilas tampak berlawanan namun sebenarnya saling menyempurnakan jika dilihat dari sudut pandang materi dan fungsi.

Satu faksi teolog berpegang teguh pada riwayat yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Abu Dawud, di mana Rasulullah bersabda bahwa hal pertama yang Allah ciptakan adalah Al-Qalam (Pena). Setelah penciptaan Pena tersebut, Allah memerintahkannya untuk menuliskan seluruh takdir makhluk hingga hari kiamat. Pendapat ini sangat populer karena aktivitas pencatatan takdir dipandang sebagai fondasi dari seluruh skenario kehidupan alam semesta.

Namun, kelompok mayoritas—termasuk Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan Al-Baidhawy—menilai bahwa 'Arsy (Singgasana) dan Air telah ada sebelum Pena diciptakan. Argumen ini ditopang kuat oleh riwayat sahih Al-Bukhari dari 'Imran bin Husain, di mana Nabi menyatakan bahwa Allah telah ada tatkala tidak ada sesuatu pun selain-Nya, dan 'Arsy-Nya berada di atas Air, baru kemudian Dia menuliskan segala sesuatu dalam Al-Dzikr (Lauh Mahfuzh). Perbedaan urutan kronologis inilah yang membentuk dialektika keilmuan Islam yang begitu kaya.

Analisis Kritis Hierarki Material dan Urutan Kronologis Ciptaan

Guna mengurai benang kusut dalam diskursus ini, metode al-jam'u wa at-tarjih (penggabungan dan pembandingan dalil) harus diterapkan secara presisi. Ketidakselarasan lahiriah antara riwayat 'Arsy, Air, dan Pena sebenarnya dapat dikompromikan dengan membedakan antara penciptaan yang bersifat mutlak (khalq mutlaq) dan penciptaan yang bersifat relatif berdasarkan fungsi alam semesta ini (khalq muqayyad).

Mari kita bedah secara anatomis. Ketika hadis menyatakan bahwa Pena adalah yang pertama diciptakan, klausa tersebut kerap dimaknai oleh para muhadditsin sebagai: "Awal mula penciptaan dalam kategori alam takdir ini adalah Pena." Artinya, Pena adalah entitas pertama yang diciptakan dalam rentetan proses pembentukan takdir makhluk fisik, bukan entitas eksistensial pertama secara mutlak di seluruh jagat spiritual dan material.

Sementara itu, Air dan 'Arsy memegang predikat sebagai pondasi fisik primordial. Air mewakili materi dasar yang menjadi tumpuan eksistensi awal, sedangkan 'Arsy adalah puncak tertinggi dari struktur makrokosmos yang menaungi seluruh ciptaan. Dengan demikian, hierarki konseptualnya menjadi sangat masuk akal: Air dan 'Arsy diciptakan terlebih dahulu sebagai fondasi fisik, disusul oleh Pena untuk mencatat hukum-hukum takdir yang bakal berlaku pada seluruh elemen yang diciptakan setelahnya.

Implikasi Praktis dan Eksistensial bagi Kesadaran Tauhid Modern

Diskusi mengenai ciptaan pertama Allah bukanlah latihan intelektual hampa tanpa faedah aplikatif. Memahami hierarki permulaan ini menanamkan kesadaran mendalam akan keagungan skenario ilahi yang mendasari setiap detail realitas yang kita jalani hari ini. Segala sesuatu yang ada di alam raya ini dibangun di atas fondasi takdir yang telah tertulis secara sempurna jauh sebelum manusia pertama menjejakkan kaki di bumi.

Kesadaran bahwa 'Arsy dan Pena mendahului eksistensi manusia memberikan perspektif segar mengenai posisi kita yang amat kerdil di hadapan Sang Pencipta. Hal ini secara otomatis meruntuhkan kesombongan ego manusia modern yang kerap merasa sebagai pusat dari segala hal. Mengetahui bahwa takdir telah dicatat oleh Al-Qalam atas perintah Sang Khaliq memberikan rasa damai yang absolut, membebaskan jiwa dari kecemasan berlebih terhadap masa depan.

Selain itu, perdebatan ilmiah yang elegan di antara para ulama salaf ini mengajarkan kita pentingnya kehati-hatian, kedalaman berpikir, dan kelapangan dada dalam menyikapi perbedaan interpretasi. Pemahaman yang komprehensif terhadap persoalan teologis ini pada akhirnya menuntun manusia menuju puncak ketauhidan: mengakui kekuasaan mutlak Allah yang merancang awal mula tanpa cetak biru, dan menentukan akhir tanpa ada yang mampu merintangi.

Kesalahan Umum dan Saran Ahli

Dalam memahami topik ciptaan pertama Allah, banyak masyarakat awam terjebak dalam pemahaman yang terlalu menyederhanakan teks Al-Qur'an dan Hadis. Kesalahan paling sering adalah mempertentangkan secara mutlak antara riwayat tentang Pena (Al-Qalam), Arsy, dan Nur Muhammad. Banyak orang menganggap perbedaan riwayat ini sebagai wujud kontradiksi ajaran, padahal para ulama mendefinisikannya sebagai perbedaan dari sudut pandang kualifikasi ciptaan (seperti ciptaan pertama dari jenis alam gaib, alam materi, atau takdir).

Para ahli teologi Islam memberikan beberapa tip penting untuk menyikapi topik ini secara bijak:

1. Memahami Konteks Majaz dan Hakiki: Jangan selalu mengartikan setiap riwayat secara harfiah tanpa memperhatikan metode takwil yang disepakati ulama mu'tabar.

2. Mendahulukan Riwayat yang Sahih: Mengutamakan hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab sahih seperti Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi sebelum merujuk pada riwayat yang lemah.

3. Mengindari Perdebatan Kusir: Fokus utama seorang muslim seharusnya adalah mengambil hikmah keagungan kekuasaan Allah, bukan terjebak dalam perdebatan tekstual yang memecah belah persatuan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Mana yang lebih dulu diciptakan, Arsy atau Al-Qalam?

Sebagian besar ulama seperti Imam Ibn Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa Arsy diciptakan sebelum Al-Qalam. Hal ini didasarkan pada hadis sahih yang menyebutkan bahwa Al-Qalam memerintahkan pencatatan takdir ketika Arsy Allah sudah berada di atas air.

2. Apakah Nur Muhammad adalah ciptaan pertama secara mutlak?

Pendapat mengenai Nur Muhammad sebagai ciptaan pertama banyak ditemukan dalam tradisi tasawuf dan beberapa kitab klasik. Namun, mayoritas ahli hadis menilai riwayat khusus tentang penciptaan Nur Muhammad sebagai ciptaan paling pertama berstatus lemah (daif) atau palsu (maudhu'), sehingga pandangan ini bukan menjadi konsensus mayoritas ulama muhaditsin.

3. Mengapa terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai ciptaan pertama?

Perbedaan ini muncul karena setiap hadis menyoroti dimensi penciptaan yang berbeda. Ada penciptaan pertama dalam konteks alat pencatat takdir (Al-Qalam), tempat (Arsy/Air), dan materi fisik alam semesta. Para ulama berusaha mengkompromikan teks-teks tersebut agar saling melengkapi.

Catatan Redaksi

Menelusuri riwayat tentang apa yang Allah ciptakan pertama kali membawa kita pada satu kesimpulan utama: keagungan tak terbatas dari Sang Pencipta. Baik itu Al-Qalam, Arsy, maupun Air, semuanya adalah bukti nyata akan keteraturan dan keikhlasan takdir yang telah dirancang-Nya sebelum alam semesta ini ada. Sebagai pembelajar, kita hendaknya menyikapi perbedaan riwayat ini dengan sikap lapang dada dan menjadikannya sebagai sarana mempertebal keimanan.