Agama Para Nabi: Ajaran Tauhid yang Tunggal
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dalam perjalanan sejarah umat manusia, para nabi dan rasul diutus dengan misi yang sama: menyeru umatnya untuk beriman dan bertakwa hanya kepada Allah SWT. Agama yang mereka bawa bukanlah agama yang berbeda-beda sesuai zaman, melainkan satu ajaran murni yang dikenal sebagai agama tauhid.
Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran, agama para nabi—mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Muhammad SAW—adalah satu kesatuan ajaran. Intinya adalah pengakuan akan keesaan Allah. Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Dia. Inilah inti dari agama yang disebut dalam Alquran sebagai millah Ibrahim, agama yang lurus dan bersih dari syirik.
Firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 25, “Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun kecuali dengan berbahasa kaumnya, agar dia dapat menjelaskan kepada mereka. Maka barangsiapa yang diberi petunjuk Allah, sesungguhnya ia mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada baginya penolong.” Ayat ini menegaskan bahwa inti dakwah semua rasul adalah sama, meski bentuk dan syariatnya menyesuaikan zaman.
Oleh karena itu, agama yang disampaikan para nabi bukanlah plural atau relatif. Jika suatu keyakinan tidak mengajak kepada penyembahan terhadap Allah semata, maka ia bukan bagian dari risalah kenabian. Ajaran syirik, politeisme, atau ateisme jelas bertentangan dengan misi utama para rasul sepanjang zaman.
Kini, di tengah beragamnya aliran dan keyakinan, penting bagi umat untuk kembali menengok ajaran asli yang dibawa para nabi: agama tauhid yang lurus, sederhana, dan universal. Bukan sekadar ritual, tetapi kehidupan yang tunduk sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.