Perbedaan Tics dan Sindrom Tourette
Ketika seseorang tiba-tiba mengedipkan mata berkali-kali, mengerucutkan mulut, atau mengeluarkan suara aneh tanpa alasan jelas, banyak orang langsung bertanya-tanya: apakah itu tics atau Sindrom Tourette? Meski sering dipakai secara bergantian, keduanya sebenarnya berbeda.
Tics adalah gerakan atau suara yang muncul tiba-tiba, berulang, dan sulit dikendalikan. Bisa jadi seseorang mengangguk-angguk kepala, mengedipkan mata, atau tiba-tiba bersuara seperti batuk atau menggumam. Tics bisa terjadi pada siapa saja, terutama saat stres atau lelah, dan sering kali bersifat sementara.
Namun, jika tics seperti ini terjadi dalam jangka panjang—minimal lebih dari setahun—dan mencakup kombinasi gerakan dan suara, maka bisa jadi itu adalah Sindrom Tourette. Sindrom ini adalah gangguan saraf yang mulai muncul pada masa kanak-kanak, biasanya antara usia 5 hingga 10 tahun. Ciri utamanya adalah adanya tics motorik (gerakan) dan tics vokal (suara) yang terjadi bersamaan selama lebih dari setahun.
Dr. Harvey Singer, seorang ahli saraf anak, menjelaskan bahwa tidak semua orang dengan tics memiliki Tourette. “Tics adalah gejala, sementara Tourette adalah diagnosis khusus,” katanya. Banyak anak dengan tics ringan justru tumbuh normal tanpa perlu pengobatan khusus.
Meski belum ada obatnya, banyak penderita Tourette bisa menjalani hidup secara normal dengan dukungan psikologis dan terapi yang tepat. Yang terpenting, lingkungan sekitar perlu memahami bahwa ini bukan sekadar kebiasaan aneh, melainkan kondisi medis yang butuh empati, bukan ejekan.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.