Apa Itu El Nino dan Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?
El Nino bukan nama orang atau tempat, melainkan fenomena alam yang cukup berpengaruh terhadap cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian barat—khususnya dekat pantai Ekuador dan Peru—menjadi lebih panas dari biasanya. Perubahan suhu ini mengganggu pola angin dan arus laut, yang kemudian berdampak pada sistem iklim global.
Di Indonesia, El Nino sering dikaitkan dengan musim kemarau yang lebih panjang dan ekstrem. Biasanya, hujan turun secara rutin mulai Oktober hingga April. Namun, saat El Nino muncul, datangnya musim hujan bisa tertunda, bahkan di beberapa wilayah hujan justru sangat minim. Kondisi ini membuat petani kesulitan menanam padi, karena ketergantungan pada curah hujan. Selain itu, kekeringan berkepanjangan berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, terutama di Sumatra dan Kalimantan.
El Nino juga memengaruhi kualitas udara. Kabut asap dari kebakaran lahan sering terbawa angin hingga ke negara tetangga, menyebabkan isu lingkungan regional. Belum lagi dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), terutama saat musim kemarau berlangsung lebih dari biasanya.
Meskipun El Nino terjadi secara alami dan bersiklus, frekuensi dan intensitasnya belakangan ini seolah meningkat. Banyak ahli menduga perubahan iklim ikut memperparah dampaknya. Karena itu, kesiapan menghadapi El Nino—mulai dari antisipasi kekeringan hingga pengelolaan sumber daya air—menjadi semakin penting bagi Indonesia.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.