Apa Itu Stunting dan Mengapa Harus Diwaspadai?

Stunting bukan sekadar anak yang pendek, tapi merupakan tanda serius dari masalah gizi kronis yang sudah berlangsung lama. Kondisi ini terjadi sejak bayi masih dalam kandungan dan terus berlanjut setelah lahir, terutama pada dua tahun pertama kehidupan — masa emas pertumbuhan.

Ketika ibu hamil kekurangan nutrisi penting seperti protein, zat besi, asam folat, atau iodium, pertumbuhan janin bisa terhambat. Setelah lahir, pola asuh yang kurang tepat, ASI tidak eksklusif, atau makanan pendamping ASI yang bergizi rendah bisa memperparah risiko stunting. Namun, gejala ini baru terlihat jelas saat anak berusia sekitar dua tahun — saat tubuhnya jelas tertinggal dibanding anak seusianya.

Anak dengan stunting bukan hanya pendek secara fisik. Lebih dari itu, otak mereka pun bisa terhambat perkembangannya. Ini berdampak pada kemampuan belajar, daya tahan tubuh yang lemah, hingga risiko penyakit di masa dewasa. Yang paling mengkhawatirkan: efek stunting bersifat permanen dan tidak bisa diperbaiki sepenuhnya setelah usia dua tahun.

Di Indonesia, stunting masih menjadi tantangan besar. Namun, pemerintah dan berbagai pihak terus menggalakkan upaya pencegahan lewat pendidikan gizi, pemantauan tumbuh kembang, dan pendampingan untuk ibu hamil serta balita. Pencegahannya dimulai dari hal sederhana: makanan bergizi seimbang, ASI eksklusif selama enam bulan pertama, dan pola asuh yang penuh perhatian.

Mencegah stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, tapi juga keluarga dan lingkungan sekitar. Karena masa depan anak dimulai dari hari pertama kehidupannya.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait