Janji Sebelum Dunia Fana

“Apakah Aku ini bukan Tuhanmu?” — begitulah pertanyaan yang menandai sebuah perjanjian suci jauh sebelum manusia pertama kali menginjakkan kaki di bumi. Dalam keyakinan Islam, setiap jiwa manusia pernah diminta bersaksi atas keesaan Allah, sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasad. Peristiwa ini disebut dalam Al-Qur’an, Surah Al-A’raf ayat 172, yang menceritakan bagaimana seluruh keturunan manusia, dari Adam hingga akhir zaman, dihadirkan dan diminta mengakui: “Ya, Engkau Tuhan kami.”

Janji ini bukan sekadar kisah simbolis, tapi fondasi dari fitrah manusia. Setiap manusia lahir dengan membawa benih pengakuan akan keberadaan Tuhan — itulah yang disebut fitrah. Namun, dunia yang penuh godaan sering membuat manusia lupa. Maka dari itu, Allah mengutus para rasul, satu demi satu, dari Nabi Nuh, Musa, Isa, hingga Muhammad ﷺ, untuk mengingatkan kembali janji suci tersebut.

Kehadiran para nabi bukan hanya membawa ajaran baru, tapi lebih pada menggugah ingatan manusia akan komitmen awal mereka. Mereka datang mengingatkan, menyeru kembali pada kebenaran yang telah diakui jauh sebelum lahir. Rasulullah ﷺ pun bersabda bahwa setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah — artinya, masih membawa kesaksian itu — tetapi lingkungan dan pendidikan yang membentuknya kemudian.

Jadi, hidup ini bukan tentang mencari Tuhan, melainkan kembali pada janji yang pernah diucapkan. Menghidupkan kembali kesadaran akan janji itu, itulah inti dari perjalanan spiritual setiap manusia.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait