Apa Penyebab Stunting Menurut WHO?
Stunting, atau kondisi anak yang mengalami gangguan pertumbuhan sehingga lebih pendek dari standar usianya, masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO), ada tiga penyebab utama di balik kondisi ini: gizi buruk, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial.
Gizi buruk menjadi faktor utama. Bayi yang tidak mendapatkan asupan nutrisi lengkap sejak dini, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan—sejak janin dalam kandungan hingga usia dua tahun—rentan mengalami hambatan pertumbuhan fisik dan otak. Kekurangan zat gizi penting seperti protein, zat besi, dan yodium dapat berdampak jangka panjang.Infeksi berulang, seperti diare atau infeksi saluran pernapasan, juga turut memperparah keadaan. Penyakit ini mengganggu penyerapan nutrisi dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat tubuh anak bekerja lebih keras untuk melawan penyakit daripada tumbuh optimal.
Yang tak kalah penting adalah kurangnya stimulasi psikososial. Anak perlu diberi perhatian, diajak berinteraksi, diajak bermain, dan dirangsang kemampuan berpikirnya sejak dini. Tanpa stimulasi ini, perkembangan kognitif dan emosional bisa terhambat, meskipun secara fisik terlihat normal.
Ketiga faktor ini jika terjadi bersamaan dan berkelanjutan selama masa emas tumbuh kembang anak, sangat mungkin memicu stunting. Dampaknya bukan hanya soal tinggi badan, tapi juga kemampuan belajar, produktivitas di masa depan, dan kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, pencegahan harus dimulai sejak awal kehamilan hingga anak berusia dua tahun, dengan dukungan gizi, kesehatan, dan kasih sayang yang cukup.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.