Operasi Pagar Betis: Mengakhiri Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

Operasi Pagar Betis adalah salah satu momen penting dalam sejarah keamanan nasional Indonesia, khususnya dalam upaya menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Barat. Dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo, pemberontakan ini telah berlangsung cukup lama dan menjadi ancaman terhadap kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuan utama Operasi Pagar Betis adalah melumpuhkan kekuatan pemberontak dengan mengepung markas mereka yang berada di kawasan terpencil, khususnya di Gunung Geber, wilayah perbatasan antara Kamojang di Kabupaten Garut dan Majalaya di Kabupaten Bandung. Wilayah ini dipilih karena kondisi alamnya yang sulit, menjadikannya tempat persembunyian ideal bagi kelompok bersenjata.

Strategi unik "pagar betis" atau pagar manusia diterapkan dalam operasi ini. Pasukan TNI membentuk barisan manusia yang saling berjajar rapat, mengitari kawasan hutan dan pegunungan, lalu secara perlahan mengecilkan area pengepungan. Dengan demikian, pergerakan pemberontak terbatas dan mereka tidak bisa melarikan diri.

Operasi ini bukan hanya soal kekuatan militer, tetapi juga bagian dari upaya pemulihan stabilitas dan kedaulatan negara. Dukungan masyarakat sekitar pun turut berperan besar dalam keberhasilan operasi ini.

Meskipun terjadi puluhan tahun lalu, Operasi Pagar Betis tetap dikenang sebagai contoh nyata profesionalisme TNI dalam menghadapi ancaman terhadap keutuhan bangsa. Jejak sejarahnya masih terasa di wilayah Garut dan Bandung, mengingatkan kita betapa pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menjaga kedamaian negeri.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait