Apakah Anak Autis Manja? Memahami Perilaku di Balik Label

Ketika melihat seorang anak menangis, menolak beraktivitas, atau tampak "rewel" di tempat umum, sering kali kita langsung menyimpulkan bahwa anak itu manja. Namun, bagi anak dengan autisme, respons seperti ini bukan sekadar sikap manja, melainkan bentuk komunikasi dari dunia yang terasa membingungkan dan menegangkan baginya.

Anak dengan autisme sering kali mengalami kepekaan sensorik yang tinggi. Suara keras, lampu yang berkedip, pakaian dengan tekstur kasar, atau bahkan bau tertentu bisa terasa seperti teriakan di telinga mereka. Bayangkan duduk di tengah keramaian pasar dengan semua suara dan cahaya menyala—itu bisa jadi pengalaman yang sangat melelahkan bagi anak autis.

Ketika mereka menangis atau menolak bergerak, itu bukan karena mereka ingin dimanja atau dimanjakan, melainkan karena mereka kewalahan. Perilaku yang dianggap "manja" sering kali adalah cara mereka mengatasi stres sensorik. Mereka belum tentu mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, jadi tubuh dan emosi mereka merespons secara langsung.

Penting bagi kita sebagai orang tua, guru, atau masyarakat untuk tidak cepat menilai. Alih-alih menyebut mereka manja, lebih baik mencoba memahami apa yang mungkin membuat mereka tidak nyaman. Memberi ruang, mengurangi rangsangan, atau sekadar mendampingi dengan sabar bisa membuat perbedaan besar.

Kasih sayang dan pemahaman lebih dibutuhkan daripada kritik. Anak autis bukan manja—mereka sedang berjuang dengan dunia yang terasa terlalu keras, terlalu terang, dan terlalu bising. Dengan empati, kita bisa membantu mereka merasa lebih aman dan diterima.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait