China di Piala Dunia: Tidak Bermain, Tapi Membiayai
Timnas Tiongkok memang belum pernah sering wara-wiri di Piala Dunia. Bahkan pada edisi 2022 di Qatar, mereka gagal lolos ke babak utama. Namun, meski timnya tidak menginjak rumput pertandingan, jejak China sangat terasa—terutama di balik layar.
Alih-alih di atas lapangan, kehadiran China justru mendominasi dari sisi bisnis. Perusahaan-perusahaan asal Tiongkok menjadi sponsor terbesar dalam Piala Dunia 2022. Mulai dari perusahaan teknologi, elektronik, hingga konstruksi, nama-nama besar asal Tiongkok muncul di layar televisi dan di sekeliling stadion. Ini bukan kebetulan—Tiongkok sedang gencar memperluas pengaruh globalnya lewat olahraga.
FIFA mencatat bahwa Tiongkok menyumbang sponsor terbanyak dibanding negara lain pada ajang tersebut. Di antaranya Wanda Group, Hisense, dan Yutong, yang semuanya memanfaatkan momentum Piala Dunia untuk memperkenalkan brand ke pasar internasional. Bagi mereka, menempatkan logo di baju wasit atau layar stadion bernilai jauh lebih besar daripada sekadar menang pertandingan.
Jadi, meski kalah di kualifikasi, Tiongkok menang dalam persaingan ekonomi. Mereka mungkin tidak meraih trofi, tapi suara "Made in China" bergema di setiap sudut turnamen. Di era modern, olahraga bukan hanya soal siapa yang paling cepat atau paling jago menendang bola—tapi juga siapa yang paling kuat membiayai.
Piala Dunia mungkin milik para pemain, tapi jejaknya dibayar oleh perusahaan. Dan dalam hal ini, Tiongkok membayar mahal—lalu mengantongi pengaruh besar.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.