Apakah Rasio DER Bisa Bernilai Minus?

DER, atau Debt to Equity Ratio, adalah rasio keuangan yang membandingkan total utang perusahaan dengan total ekuitasnya. Rasio ini sering digunakan untuk mengukur seberapa besar perusahaan bergantung pada utang dalam membiayai operasinya. Secara umum, DER yang sehat adalah yang bernilai positif — artinya, perusahaan memiliki ekuitas yang cukup untuk menutup utangnya.

Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah DER bisa bernilai minus? Jawabannya adalah ya, bisa — meski kondisi ini sangat mencemaskan. DER negatif terjadi ketika akumulasi kerugian perusahaan melebihi jumlah ekuitas yang dimilikinya. Dalam istilah akuntansi, ini berarti ekuitas menjadi negatif karena rugi ditahan (loss carried forward) terus menumpuk.

Saat ekuitas negatif, pembagian utang terhadap ekuitas menghasilkan angka negatif. Ini bukan sekadar masalah angka — ini adalah alarm bahaya. Perusahaan dengan DER negatif berarti secara teknis sudah insolvent atau tidak mampu membayar kewajibannya. Kondisi ini sering terjadi pada perusahaan yang mengalami kerugian bertahun-tahun tanpa ada perbaikan struktur keuangan.

Meski secara teknis masih bisa beroperasi (terutama jika didukung likuiditas atau suntikan dana), perusahaan dengan DER negatif akan kesulitan mendapat pinjaman dari bank atau menarik investor. Kreditor akan sangat waspada karena risiko gagal bayar sangat tinggi.

Jadi, DER negatif bukan sekadar anomali angka — ini adalah indikator kuat bahwa kesehatan finansial perusahaan sedang dalam kondisi kritis. Pemegang saham dan manajemen perlu segera mengambil langkah strategis, seperti restrukturisasi utang atau peningkatan modal, agar perusahaan bisa kembali stabil.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait