Etika Berdzikir dalam Islam: Haruskah Bersuara?
Dzikir merupakan amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dan orang yang tidak berdzikir, seperti orang hidup dan orang mati.” Namun, muncul pertanyaan umum: apakah dzikir harus dilakukan dengan suara keras?
Jawabannya, dzikir tidak selalu harus bersuara. Bahkan, Rasulullah ﷺ lebih sering berdzikir dengan suara lirih, terutama ketika berada di tengah orang banyak. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, beliau tidak pernah mengeraskan suara saat berdzikir melebihi suara teman-temannya. Ini menunjukkan adab yang mulia: tidak mencari perhatian, tetapi menjaga keikhlasan dan ketenangan hati.
Bersuara lirih saat berdzikir adalah sunah yang patut diteladani.Menurut para ulama, berdzikir dengan suara keras justru bisa menimbulkan riya’ (pamer) atau mengganggu orang lain. Kecuali dalam situasi tertentu, seperti dzikir bersama dalam majelis yang dipimpin oleh seorang syaikh, di mana kewajarannya tetap dijaga. Bahkan, dalam keadaan sendirian—seperti di rumah atau mobil—berdzikir lirih justru lebih utama karena mendekatkan hati kepada Allah dengan khusyuk.
Yang terpenting, dzikir harus dilakukan dengan adab dan tata krama. Bukan soal keras atau pelan suaranya, tetapi bagaimana hati merasakan makna dari setiap kalimat yang diucapkan. Seperti firman Allah, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Jadi, tidak perlu bersuara keras untuk menunjukkan kualitas ibadah. Cukup jujurkan hati, luruskan niat, dan biarkan dzikir menjadi obat bagi jiwa yang rindu pada Sang Pencipta.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.