Apakah Jidat Hitam Dibenci Nabi?
Sering kali kita melihat seseorang memiliki bekas hitam di dahi, terutama di kalangan mereka yang rajin bersujud saat shalat. Tapi muncul pertanyaan: apakah jidat hitam itu dibenci Nabi? Jawabannya perlu dipahami dengan benar agar tidak salah kaprah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memang tidak menyukai adanya tanda hitam di dahi, bukan karena bentuk fisiknya, melainkan karena khawatir hal itu bisa menimbulkan riya’—yaitu sikap ingin dilihat orang sebagai yang paling rajin atau saleh. Ini adalah peringatan halus dari Nabi terhadap bahaya riya’, yang bisa mengurangi pahala ibadah.
Bekas hitam di dahi sendiri tidak haram. Bahkan, beberapa sahabat memiliki bekas sujud karena sangat tekun dalam ibadah. Tapi Nabi lebih mementingkan keikhlasan daripada tampilan luar. Beliau khawatir jika seseorang mulai bangga dengan bekas itu, lalu memamerkannya sebagai simbol ketakwaan—padahal hati jauh dari ketulusan.
Jadi, masalah utamanya bukan pada warna kulit di dahi, tapi pada niat di balik ibadah. Apakah dilakukan karena Allah, atau sekadar untuk dipuji orang? Inilah yang harus terus dijaga oleh setiap muslim.
Rasulullah mengajarkan agar kita menjalani ibadah dengan khusyuk dan rendah hati. Tidak perlu mencari pujian lewat bekas sujud, apalagi merasa lebih baik dari orang lain hanya karena rajin shalat. Justru, sikap tawadhu’ dan menjaga hati dari riya’ adalah kunci diterimanya amal.
Intinya, jidat hitam bukanlah dosa, tapi sikap hati yang sombong atau pamer bisa menjadi bahaya tersembunyi. Mari fokus pada keikhlasan, bukan sekadar tanda lahiriah.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.