Marah-Marah Bisa Picu Stroke? Ini Faktanya
Marah-marah tidak hanya memengaruhi suasana hati, tapi juga bisa berdampak serius pada kesehatan jantung dan otak. Banyak orang mungkin menganggap amarah sebagai hal biasa, tapi ternyata emosi ini bisa jadi pemicu tak terduga bagi serangan stroke.
Sebuah penelitian besar global bernama Interstroke tahun 2021, yang diterbitkan dalam European Heart Journal, mengungkap fakta mencengangkan. Studi tersebut menemukan bahwa seseorang yang sedang marah atau mengalami emosi negatif lain—seperti kesedihan, depresi, atau kecemasan—mengalami peningkatan risiko stroke hingga sekitar 30 persen dalam waktu satu jam setelah emosi itu muncul.
Ketika marah, tubuh langsung merespons dengan melepaskan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Tekanan darah melonjak, detak jantung meningkat, dan pembuluh darah bisa menyempit. Kondisi ini, terutama pada orang dengan faktor risiko seperti hipertensi atau penyakit jantung, bisa menjadi pemicu terjadinya stroke iskemik atau bahkan stroke hemoragik.
Yang lebih mengkhawatirkan, efek ini bisa terjadi bahkan pada orang yang secara fisik terlihat sehat. Namun, bukan berarti kita harus menahan emosi sepenuhnya. Yang penting adalah belajar mengelola stres dan emosi negatif dengan cara sehat—seperti berbicara pada orang terdekat, menarik napas dalam, atau sekadar berjalan kaki sebentar saat merasa emosi memuncak.
Jadi, meski marah adalah bagian dari perasaan manusia, penting untuk tidak membiarkannya meledak-ledak. Menjaga ketenangan bukan cuma baik untuk hubungan sosial, tapi juga untuk kesehatan otak jangka panjang.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.