Benarkah "Menghadang" Itu Salah?

Di tengah percakapan sehari-hari atau saat menulis, banyak dari kita tanpa sadar menggunakan kata seperti "menghadang" atau "dihadang". Padahal, menurut pakar linguistik Ivan Lanin, bentuk yang sebenarnya baku justru berbeda.

Menurutnya, bentuk yang benar adalah "mengadang" untuk bentuk aktif, dan "diadang" untuk bentuk pasif. Jadi, kalimat seperti "Polisi menghadang pelaku" sebenarnya kurang tepat secara kaidah bahasa baku. Yang lebih sesuai adalah "Polisi mengadang pelaku". Begitu pula, "Mobil itu dihadang" seharusnya "Mobil itu diadang".

Mengapa demikian? Dalam tata bahasa Indonesia, penambahan awalan "me-" atau "di-" pada kata dasar "adang" tidak lantas menambah huruf "h". Kata "hadang" sendiri bukan kata dasar, melainkan bentuk yang sudah mengalami perubahan fonetik dari "adang" karena pengaruh ejaan sehari-hari atau dialek daerah. Namun, dalam konteks formal dan baku, bentuk aslinya harus tetap dipertahankan.

Memang, penggunaan "menghadang" atau "dihadang" sudah sangat umum dan bahkan sering muncul di media. Tapi, bagi yang ingin berbahasa sesuai kaidah, mengingat perbedaan ini penting. Seperti halnya "mengambil" bukan "menghambil", logikanya pun serupa.

Meski terdengar sepele, pemahaman seperti ini membantu menjaga kemurnian dan keindahan bahasa Indonesia. Jadi ke depan, mungkin saat menulis atau berbicara formal, kita bisa lebih cermat: bukan "dihadang", tapi "diadang".

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait