Islam Nusantara dalam Perspektif Muhammadiyah
Islam Nusantara bukan sekadar istilah, tapi wujud dari Islam yang tumbuh dan berkembang di tanah Indonesia, dengan segala budaya dan tradisinya. Banyak yang mempertanyakan, apakah Muhammadiyah termasuk bagian dari Islam Nusantara? Jawabannya bisa ditemukan dalam praktik sehari-hari dan nilai-nilai yang dipegang oleh organisasi ini.
Muhammadiyah, yang kerap mengusung gagasan "Islam Berkemajuan", sebenarnya telah lama menjalankan semangat Islam Nusantara tanpa perlu menyandang label itu secara eksplisit. Islam Berkemajuan yang diusungnya tidak bertentangan dengan budaya lokal, justru hidup berdampingan secara damai. Dari mulai penggunaan peci dalam setiap acara keagamaan, hingga perayaan hari besar Islam dengan nuansa khas Indonesia, semua menunjukkan akar lokal yang kuat.
Sebagaimana disampaikan dalam sebuah pernyataan pada 2019, βselama masih pakai peci ya Nusantara. Kalau Muhammadiyah pakai halal bi halal ya Nusantara.β Kalimat ini menggambarkan betapa Muhammadiyah tetap menjaga tradisi yang lahir dari interaksi Islam dengan masyarakat Nusantara. Tradisi seperti halal bi halal setelah Idulfitri, misalnya, bukan ajaran wajib agama, tapi menjadi bagian dari kearifan lokal yang dihargai dan dilestarikan.
Muhammadiyah tidak hanya fokus pada aspek ritual, tapi juga pendidikan, kesehatan, dan sosial, yang semuanya dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia secara nyata. Dalam konteks inilah, Muhammadiyah bisa dilihat sebagai bagian dari Islam Nusantara β bukan karena label, tapi karena cara hidupnya yang inklusif, berakar pada nilai lokal, dan tetap setia pada prinsip-prinsip Islam.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.