Apakah Pakai Listrik di Malam Hari Lebih Mahal? Ini Faktanya

Ada anggapan yang cukup umum di masyarakat: menggunakan listrik di malam hari lebih mahal daripada siang hari. Namun, kenyataannya tidak selalu seperti itu. Di Indonesia, tarif listrik umumnya tidak dibedakan berdasarkan waktu pemakaian—baik pagi, siang, maupun malam.

Hitungannya sederhana: semakin banyak listrik yang digunakan, semakin tinggi tagihan yang harus dibayar. Satuan yang digunakan adalah kWh (kilowatt per jam), yang mengukur seberapa banyak energi listrik dikonsumsi oleh perangkat di rumah. Jadi, jika kamu menyalakan AC, lampu, atau mesin cuci dalam waktu lama, maka penggunaan kWh akan naik—terlepas dari jamnya.

Untuk pelanggan rumah tangga dengan golongan tarif tertentu, seperti listrik subsidi (R1) atau non-subsidi, harga per kWh tetap dalam satu hari penuh. Artinya, menyalakan kipas angin pada pukul 08.00 atau pukul 23.00 biayanya sama, asalkan total pemakaiannya tidak melebihi batas golongan tarif.

Meski demikian, ada kebijakan time-of-use (penggunaan berdasarkan waktu) yang mulai diterapkan untuk beberapa golongan pelanggan besar, seperti industri atau bisnis. Tapi untuk rumah tangga kebanyakan, belum diberlakukan sistem ini.

Jadi, intinya: tidak ada biaya tambahan hanya karena kamu menggunakan listrik di malam hari. Yang penting adalah kesadaran untuk hemat energi. Matikan perangkat yang tidak terpakai, gunakan peralatan elektronik secara efisien, dan cek rutin pemakaian lewat aplikasi PLN atau kWh meter di rumah.

Dengan memahami cara kerja tagihan listrik, kamu bisa mengatur penggunaan lebih bijak—tanpa perlu khawatir terkena biaya tambahan hanya karena menggunakan listrik di malam hari.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait