Remaja Juga Bisa Terkena Rheumatoid Arthritis, Waspada Gejalanya

Rheumatoid arthritis atau radang sendi reumatoid sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang tua. Namun kenyataannya, penyakit ini bisa muncul pada usia berapa pun—termasuk remaja dan bahkan anak-anak.

Menurut dokter spesialis reumatologi, meskipun kebanyakan kasus terjadi pada orang berusia 30 hingga 50 tahun, tidak sedikit remaja yang juga didiagnosis mengalami kondisi ini. Penyakit ini tergolong autoimun, artinya sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sendiri, terutama lapisan sendi, sehingga menimbulkan nyeri, bengkak, dan kaku.

Gejala yang muncul sering kali dimulai secara perlahan. Remaja bisa merasa sendinya sakit setelah bangun tidur, biasanya di tangan, pergelangan kaki, atau lutut. Rasa kaku bisa berlangsung lebih dari 30 menit dan terasa lebih parah di pagi hari. Selain itu, bisa disertai lelah, demam ringan, dan penurunan berat badan.

Yang membuatnya berbahaya adalah, jika tidak ditangani cepat, peradangan terus menerus bisa merusak sendi secara permanen dan mengganggu pertumbuhan tulang remaja. Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak menyepelekan keluhan nyeri sendi yang berulang pada anak atau remaja.

Di Indonesia, kesadaran akan penyakit ini masih tergolong rendah. Banyak yang mengira nyeri sendi hanyalah akibat kurang olahraga atau terlalu banyak duduk. Padahal, jika gejalanya menetap, sebaiknya segera periksakan ke dokter agar bisa dideteksi lebih dini.

Dengan pengobatan yang tepat—seperti obat antiinflamasi, terapi fisik, dan perubahan gaya hidup—remaja dengan rheumatoid arthritis tetap bisa menjalani kehidupan normal. Kunci utamanya adalah deteksi dini dan konsistensi dalam penanganan.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait