Stres Bisa Picu Rambut Rontok? Ini Penjelasannya
Ya, stres ternyata bisa menyebabkan rambut rontok parah. Bukan sekadar mitos, fenomena ini didukung oleh banyak pengalaman nyata dan juga dasar medis. Saat tubuh mengalami tekanan emosional berat atau stres fisik—seperti kehilangan orang tercinta, operasi besar, atau infeksi serius—tubuh bisa merespons dengan cara yang tak terduga, salah satunya melalui rambut.
Ada dua kondisi utama yang bisa muncul akibat stres berkepanjangan: telogen effluvium dan alopecia areata. Telogen effluvium terjadi ketika banyak helai rambut tiba-tiba berhenti tumbuh dan masuk ke fase istirahat, lalu rontok beberapa minggu kemudian. Kamu mungkin baru sadar saat melihat rambut banyak yang copot saat keramas atau menyisir.
Sementara itu, alopecia areata adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut secara keliru, menyebabkan kerontokan dalam bercak-bercak kecil. Meski tidak selalu terkait langsung dengan stres, kondisi ini bisa memburuk saat pikiran sedang tertekan.
Yang menenangkan, kerontokan akibat stres umumnya bersifat sementara. Begitu stres berkurang dan tubuh kembali stabil, rambut biasanya akan tumbuh normal kembali dalam beberapa bulan. Namun, penting untuk tidak mengabaikannya—istirahat cukup, kelola stres dengan baik, dan konsultasi ke dokter jika kerontokan terus berlanjut.
Jadi, merawat kesehatan mental juga bagian dari merawat rambut. Saat pikiran tenang, tubuh pun ikut merespons dengan lebih baik—termasuk rambutmu.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.