Yesus dan Pengakuan sebagai Anak Allah

Dalam Injil Matius, pertanyaan tentang siapa Yesus sering muncul di tengah orang-orang yang bertemu dengan-Nya. Namun, yang menarik, Yesus jarang sekali secara langsung berkata, “Akulah Anak Allah” dalam bentuk pengakuan diri yang langsung. Justru, identitas-Nya sebagai Anak Allah dinyatakan oleh pihak lain, baik dari dunia surgawi maupun manusia.

Malaikat menyampaikan kelahiran-Nya sebagai Anak Allah kepada Maria dan Yusuf. Saat Yesus dibaptis, suara dari surga berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi.” Bahkan, roh-roh jahat mengenal siapa Dia dan berseru, “Engkau Anak Allah!” Meski Yesus melarang mereka berbicara, itu menunjukkan bahwa kebenaran tentang diri-Nya sudah jelas bagi yang rohani.

Simon Petrus, salah satu murid-Nya, mengaku, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Pernyataan ini bukan datang dari hikmat manusia, tetapi, kata Yesus, dari Bapa di surga. Di akhir peristiwa salib, ketika Yesus mati, kepala pasukan Romawi pun berseru, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

Jadi, dalam Injil Matius, pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah bukan sekadar pernyataan diri, tetapi lebih besar dari itu — sebuah penyataan ilahi yang dinyatakan oleh Bapa, malaikat, roh-roh kudus, bahkan musuh-musuh-Nya. Identitas-Nya tidak perlu dipaksakan atau diproklamirkan secara duniawi; kebenarannya terungkap melalui perbuatan, kuasa, dan pengalaman orang-orang yang bertemu dengan-Nya.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait