Cara Istighfar yang Benar Menurut Ajaran Islam

Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Namun, Islam mengajarkan bahwa selama masih hidup, selalu ada jalan untuk kembali mendekat kepada Allah. Salah satu caranya adalah dengan istighfar, atau memohon ampunan.

Berdasarkan buku Psikoterapi Profetik karya Cintami Farmawati, istighfar bukan sekadar ucapan “astaghfirullah” yang diulang-ulang tanpa makna. Lebih dari itu, istighfar yang benar harus datang dari hati yang tulus, disertai rasa menyesal atas kesalahan yang telah dilakukan.

Beberapa bacaan istighfar yang dianjurkan antara lain:

Astaghfirullah al-‘adzim alladzī lā ilāha illā huw al-hayy al-qayyūm wa atūb ilaih” (Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Maha Mengatur, dan aku bertaubat kepada-Nya). Ini adalah doa yang sering diamalkan oleh Rasulullah SAW dan memiliki keutamaan besar.

Selain itu, membaca “Rabbi ghfir lī wa tub ‘alayya innaka antat-tawwāb ur-raḥīm” (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang) juga sangat dianjurkan, terutama setelah shalat.

Yang tak kalah penting, istighfar harus dibarengi dengan tekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan salah. Tanpa niat memperbaiki diri, istighfar hanya menjadi kata-kata tanpa makna.

Praktik istighfar secara rutin juga memberi ketenangan batin. Bukan hanya membersihkan dosa, tapi juga menyucikan hati dan mempererat hubungan dengan Sang Pencipta. Dalam kesibukan harian, luangkan waktu sejenak untuk mengucapkan istighfar dengan khusyuk—mungkin saat selesai shalat, sebelum tidur, atau bahkan di tengah kesibukan.

Seperti janji Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan senantiasa membersihkan diri.” Maka jangan pernah ragu untuk kembali meminta ampunan.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait