Bagaimana Cara Mengukur Stunting pada Anak?

Stunting, atau pertumbuhan terhambat pada anak, menjadi perhatian serius di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika anak mengalami kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupannya sejak dari kandungan hingga usia dua tahun. Lalu, bagaimana cara mengukur stunting?

Indikator utama yang digunakan di Indonesia untuk mendeteksi stunting adalah tinggi badan menurut usia (TB/U). Jika tinggi badan anak berada di bawah -2 standar deviasi dari median standar pertumbuhan anak sehat menurut usianya, maka anak tersebut dikategorikan stunting. Selain TB/U, dua indikator lain juga digunakan: berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) dan berat badan menurut usia (BB/U), meskipun fokus utama tetap pada pertumbuhan panjang jangka, yaitu tinggi badan.

Pengukuran ini biasanya dilakukan oleh tenaga kesehatan di puskesmas, posyandu, atau melalui survei kesehatan nasional. Alat ukur yang digunakan harus standar, seperti microtoise untuk bayi dan alat ukur tinggi untuk anak lebih besar, agar hasilnya akurat.

Stunting tidak hanya tentang tinggi badan yang pendek. Ini mencerminkan dampak jangka panjang dari kekurangan gizi, infeksi berulang, dan perawatan yang tidak memadai. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami keterlambatan perkembangan kognitif, prestasi belajar rendah, dan masalah kesehatan di masa dewasa.

Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting. Dengan pengukuran rutin sejak dini, pemerintah dan keluarga bisa mengambil langkah tepat, seperti perbaikan pola makan, pemberian ASI eksklusif, dan akses ke layanan kesehatan. Upaya ini bukan hanya soal pertumbuhan fisik, tapi juga masa depan generasi penerus bangsa.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait