“Berbahagialah Mereka yang Tidak Melihat, Namun Percaya”
Dalam percakapan antara Yesus dan Tomas, tercatat sebuah kalimat yang mendalam dan penuh makna. Tomas, salah satu murid, sempat meragukan kebangkitan Yesus hingga akhirnya bisa melihat dan menyentuh bekas luka di tangan dan lambung-Nya. Saat itu, Yesus berkata kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
Ucapan ini menyentuh inti dari iman sejati. Banyak dari kita tidak pernah melihat Yesus secara fisik, tidak menyentuh tangan-Nya atau menyaksikan keajaiban yang dilihat para murid. Namun, iman tetap hidup—dalam doa, dalam pelayanan, dalam ketekunan saat menghadapi ujian. Justru di situlah berkat itu dinyatakan: bagi mereka yang memilih untuk percaya tanpa harus melihat.
Keberanian untuk percaya dalam ketidakpastian bukanlah kelemahan, melainkan bukti kedalaman iman. Dalam kehidupan sehari-hari, iman itu muncul saat seseorang tetap setia meski tidak melihat jawaban, tetap berdoa meski langit terasa diam, tetap mengasihi meski pernah terluka.
Yesus tidak menyalahkan Tomas karena keraguannya. Ia hadir untuk menyapa keraguan itu dengan kasih. Tapi kemudian, Ia membuka pandangan yang lebih luas: suatu berkat khusus tersedia bagi mereka yang meneruskan cerita iman tanpa memerlukan bukti fisik.
Kita yang hidup hari ini—jauh dari zaman para rasul—masih diajak masuk ke dalam janji itu. Iman bukan tentang melihat dulu baru percaya. Ia tentang percaya, lalu mengalami kehadiran-Nya. Dan dalam pilihan untuk tetap percaya itulah, berkat itu nyata.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.