Benarkah Paulus Bukan Rasul?
Sebuah pertanyaan yang kerap muncul dalam diskusi iman adalah, "Benarkah Paulus bukan rasul?" Jawaban yang menyatakan bahwa Paulus bukan rasul sering kali merujuk pada tindakannya yang dianggap kontroversial, seperti mengajak orang percaya kepadanya sendiri. Namun, penting untuk melihat konteks secara lebih utuh.
Dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam surat-surat yang ditulisnya, Paulus secara eksplisit menyebut dirinya sebagai rasul yang dipanggil oleh Yesus Kristus—bukan karena pilihan manusia, tetapi karena penyataan langsung dari Tuhan (Galatia 1:1). Perjumpaannya dengan Yesus di jalan menuju Damsyik menjadi titik balik yang mengubah hidupnya dari penganiaya gereja menjadi pembawa Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi.
Memang, Paulus bukan salah satu dari dua belas murid yang dipilih langsung oleh Yesus selama pelayanan-Nya di dunia. Namun, kata "rasul" sendiri bermakna "yang diutus," dan dalam tradisi Kristen, panggilan ini tidak terbatas hanya pada keduabelas. Paulus sendiri menegaskan bahwa pelayanannya diakui oleh para rasul yang lain, seperti Petrus dan Yakobus (Galatia 2:9).
Beberapa tindakan Paulus memang keras—seperti ketika ia menegur jemaat atau membela kebenaran Injil dengan semangat yang tinggi. Tapi justru semangat itulah yang menunjukkan komitmennya terhadap kebenaran, bukan mencari kehormatan bagi dirinya sendiri.
Jadi, meski tidak menjadi saksi langsung selama pelayanan Yesus di bumi, Paulus tetap diakui sebagai rasul karena panggilan khusus dari Kristus dan dampak luar biasa dari pelayanannya. Melihat karyanya yang membentuk jemaat-jemaat di seluruh dunia kuno, sulit untuk menyangkal peran vitalnya dalam penyebaran iman Kristen.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.