Kejatuhan Majapahit: Akhir dari Sebuah Kerajaan Besar
Kejatuhan Majapahit merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Nusantara. Kerajaan yang pernah mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan diatur oleh kebijaksanaan Gajah Mada ini akhirnya mengalami kemunduran. Tanda-tanda keruntuhan kerajaan besar ini ditandai dengan munculnya candrasengkala "Sirna Ilang Kertaning Bumi", yang jika dihitung secara Jawa, mengacu pada tahun 1478 M.
Angka tahun dalam candrasengkala tersebut bukan sekadar simbol, melainkan petanda bahwa kekuasaan Majapahit mulai hilang. Meskipun Hayam Wuruk sendiri memerintah jauh sebelum 1478, kemunduran dimulai setelah kematiannya, saat perebutan kekuasaan dan perpecahan internal semakin meluas. Konflik antar keluarga kerajaan, seperti Perang Paregreg, melemahkan struktur politik dan militer Majapahit.
Selain faktor internal, tekanan dari kekuatan-kekuatan baru juga turut mempercepat keruntuhan. Kerajaan-kerajaan Islam mulai tumbuh pesat di pesisir Jawa, seperti Demak, yang akhirnya menjadi pusat kekuatan baru. Pergeseran pusat kekuasaan dari pedalaman ke pesisir, serta perubahan ekonomi dan agama, membuat Majapahit tak mampu lagi mempertahankan dominasinya.
Meski tidak runtuh secara mendadak, tahun 1478 sering dijadikan titik simbolis berakhirnya kejayaan Majapahit. Warisan budaya, seni, dan kebudayaan Majapahit tetap hidup dalam tradisi Nusantara hingga kini. Kejatuhannya bukan akhir dari segalanya, melainkan babak baru dalam perjalanan panjang sejarah bangsa.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.