Kapan Indonesia Kehabisan Bahan Bakar Fosil?

"Kita hanya punya waktu 15 tahun jika pola konsumsi energi tetap seperti sekarang." Itulah peringatan keras dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, yang disampaikan pada Oktober 2022. Angka ini bukan sekadar proyeksi, tapi alarm bagi Indonesia untuk segera menata ulang cara kita menggunakan energi.

Bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara memang masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Namun, cadangannya tidak tak terbatas. Dengan konsumsi domestik yang terus meningkat dan ekspor yang besar, sumber daya ini bisa menipis lebih cepat dari perkiraan. Jika tidak ada perubahan signifikan, dalam satu dekade setengah lagi, kita bisa menghadapi krisis energi.

Peringatan ini bukan berarti dunia akan langsung kehabisan bahan bakar fosil secara global. Tapi untuk Indonesia, cadangan yang tersedia saat ini diperkirakan hanya cukup hingga sekitar tahun 2037–2038 jika tidak ada upaya efisiensi dan transisi energi. Ini membuat transisi ke energi baru dan terbarukan — seperti tenaga surya, air, dan geothermal — bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Pemerintah sudah mulai mendorong kendaraan listrik, bauran energi baru, dan penghematan energi di sektor industri. Tapi perlu lebih banyak lagi. Masyarakat juga punya peran: dari mengurangi konsumsi BBM, menggunakan transportasi umum, hingga mendukung kebijakan energi bersih.

Waktu terus berjalan. 15 tahun terdengar jauh, tapi dalam urusan energi, itu seperti detik jarum jam. Indonesia harus mulai bergerak sekarang — sebelum lampu padam karena kelalaian.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait