Kapan Harus Pakai Kata "Literally"?
Sering dengar orang bilang literally tapi bingung kapan harus pakai kata itu? Sebenarnya, literally digunakan untuk menekankan bahwa sesuatu benar-benar terjadi, bukan sekadar hiperbola. Artinya mirip dengan “benar-benar” atau “sungguh-sungguh” dalam bahasa Indonesia.
Misalnya, kalau kamu bilang, “I was literally starving,” secara harfiah artinya kamu benar-benar hampir kelaparan. Tapi dalam percakapan sehari-hari, literally sering dipakai secara santai — bahkan terkadang untuk memperkuat perasaan, meski tidak sepenuhnya akurat. Misalnya, “I literally died laughing” — padahal jelas tidak mati, kan? Tapi dalam konteks informal, ini bisa diterima.
Namun, kalau kamu sedang menulis sesuatu yang serius atau ingin bersikap akurat, pastikan literally benar-benar menggambarkan kenyataan. Contoh yang lebih tepat: “There were literally thousands of people at the concert.” Artinya, memang terhitung ribuan orang — bukan sekadar ungkapan.
Jadi, intinya: literally bukan sekadar kata penekanan biasa. Dia punya makna kuat sebagai penguat kebenaran fakta. Kalau dipakai sembarangan, malah bisa terdengar lucu atau kurang meyakinkan.
Gunakan dengan bijak, terutama saat kamu ingin orang tahu bahwa yang kamu katakan bukan bualan, tapi kenyataan yang mengejutkan sekalipun.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.