Mengapa Anak Autis Sering Marah?
Kemarahan pada anak autis sering kali menimbulkan pertanyaan bagi orang tua maupun lingkungan sekitarnya. Padahal, marah bukanlah perilaku yang muncul tanpa alasan, melainkan cara mereka merespons dunia yang terasa berlebihan dan sulit dipahami.
Anak dengan autisme umumnya memiliki cara berpikir dan merasakan dunia yang berbeda. Mereka bisa sangat peka terhadap suara keras, cahaya terang, atau sentuhan yang terasa menyakitkan, meskipun bagi orang lain hal itu biasa saja. Karena keterbatasan dalam berkomunikasi, anak ini kesulitan menyampaikan bahwa tubuhnya merasa tidak nyaman, stres, atau kewalahan. Kemarahan atau tantrum justru menjadi satu-satunya cara mereka untuk mengatakan, “Aku butuh bantuan.”
Selain faktor internal, tekanan dari luar juga memperbesar risiko ledakan emosi. Di sekolah, misalnya, anak autis rentan menjadi korban bullying atau merasa tertekan karena tidak bisa mengikuti aturan sosial yang rumit. Candaan yang dianggap ringan bagi anak lain bisa terasa menyakitkan dan membingungkan bagi mereka. Lama-kelamaan, tekanan ini menumpuk dan memicu agresivitas sebagai bentuk pertahanan diri.
Alih-alih menilai perilaku marah sebagai "nakal", yang dibutuhkan adalah empati dan pemahaman. Dengan pendekatan yang sabar, lingkungan yang mendukung, serta pendampingan dari tenaga profesional, anak autis bisa belajar mengelola emosinya secara lebih baik. Yang terpenting, mereka perlu merasa aman dan dimengerti—bukan dihakimi.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.