Mengapa dalam Kristen Ada Allah?

Bagi banyak orang, terutama yang tumbuh di luar tradisi Kristen, mungkin muncul pertanyaan: kenapa dalam Kristen ada Allah? Bukankah "Allah" itu istilah yang lebih sering dikaitkan dengan Islam? Padahal, sebenarnya kata "Allah" bukan milik satu agama saja. Dalam bahasa Arab, kata ini secara harfiah berarti "Tuhan", dan digunakan oleh umat Kristen Arab, Muslim, dan bahkan Yahudi Arab sejak berabad-abad lalu.

Jadi, ketika orang Kristen di Indonesia—yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa liturgi dan sehari-hari—berbicara tentang Allah, mereka merujuk pada sosok Tuhan yang sama seperti dalam Alkitab. Hanya saja, dalam iman Kristen, pemahaman tentang Tuhan memiliki ciri khas: Tuhan itu satu, tetapi dinyatakan dalam tiga pribadi—Bapa (yang sering disebut sebagai Allah), Anak (Yesus Kristus), dan Roh Kudus.

Ini dikenal sebagai konsep Trinitas, yaitu satu esensi ilahi dalam tiga wujud. Jadi, ketika seorang Kristen berdoa kepada "Allah", mereka bisa merujuk pada Bapa dalam Trinitas. Yesus sendiri, dalam Injil, sering berdoa kepada Bapa, yang Ia sebut sebagai "Allah"-Nya. Artinya, kehadiran istilah "Allah" dalam Kristen bukan karena pengaruh luar, melainkan karena memang itulah cara iman Kristen menggambarkan Tuhan yang satu, namun dinyatakan dalam hubungan yang penuh kasih antar pribadi ilahi.

Bagi umat Kristen, menyebut "Allah" bukan soal kata, tapi soal relasi. Itu adalah nama dari Sang Pencipta, yang dalam Yesus datang mendekat, dan terus bekerja lewat Roh Kudus. Dalam keragaman istilah, iman tetap mengarah pada satu kebenaran: Tuhan yang mengasihi, memanggil, dan menyelamatkan.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait