Kenapa Juventus Gagal Juara Usai Datangkan Ronaldo?

Ketika Juventus memutuskan memboyong Cristiano Ronaldo dari Real Madrid pada 2018, gelombang optimisme langsung melanda Turin. Mereka punya megabintang, pengalaman juara Liga Champions lima kali — tentu gelar Eropa bukan lagi impian kosong. Namun, tiga musim berlalu, dan trofi Si Kuping Besar tetap jadi mimpi yang tak terwujud.

Alasannya? Bukan Ronaldo yang gagal beradaptasi. Ia tetap tampil tajam, mencetak banyak gol, bahkan jadi top skor sementara dalam beberapa edisi. Masalahnya justru ada di sekitarnya. Juventus memang mendatangkan pemain-pemain solid, tapi tidak membangun tim yang benar-benar kompetitif di level Eropa. Skuadnya terlalu tua, terlalu bergantung pada individu, dan kurang fleksibel saat menghadapi tim dengan pressing tinggi dan kecepatan.

Selain itu, keputusan transfer Juventus selama periode itu sering dipertanyakan. Mereka menghabiskan banyak uang untuk gaji Ronaldo, tapi tidak cukup investasi untuk memperkuat lini tengah atau belakang dengan pemain muda berkualitas Eropa. Ketika tim-tim seperti Liverpool, Manchester City, atau bahkan Bayern Munich terus berevolusi, Juve justru terlihat stagnan.

Jadi, meski ambisi membawa Juve kembali ke puncak Eropa sangat besar, kenyataannya mereka tak punya fondasi tim yang cukup kuat. Membeli Ronaldo adalah langkah ambisius, tapi tanpa dukungan skuad yang sepadan, mimpi itu sulit jadi kenyataan. Akhirnya, setelah tiga musim tanpa trofi Liga Champions, baik pihak klub maupun pemain harus menerima kenyataan: satu bintang besar tak cukup untuk mengangkat seluruh tim ke level tertinggi.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait