Kenapa Kemoterapi Sering Bikin Rambut Rontok?

Saat mendengar kata kemoterapi, banyak orang langsung membayangkan pasien kanker yang kehilangan rambutnya. Pertanyaannya, kenapa hal itu terjadi? Jawabannya terletak pada cara kerja obat kemoterapi itu sendiri.

Kemoterapi menggunakan obat-obatan kuat untuk membunuh sel kanker yang tumbuh cepat. Namun, sayangnya, obat ini tak hanya menyasar sel kanker—sel sehat yang juga berkembang biak cepat pun ikut terdampak. Salah satunya adalah sel keratinosit di folikel rambut.

“Kenapa kemoterapi harus botak?” mungkin terdengar seperti lelucon, tapi pertanyaan itu menyentuh kenyataan yang dirasakan banyak pasien. Rambut rontok terjadi karena folikel rambut mengalami kerusakan akibat serangan obat. Rambut bisa mulai rontok dalam hitungan minggu setelah terapi dimulai, dan bisa terjadi di seluruh tubuh—bukan hanya di kepala, tapi juga alis, bulu mata, hingga rambut tubuh lainnya.

Meski terdengar menakutkan, penting untuk diingat bahwa kerontokan rambut akibat kemoterapi umumnya bersifat sementara. Setelah pengobatan selesai, rambut biasanya tumbuh kembali, meski mungkin butuh waktu beberapa bulan hingga bentuk dan teksturnya kembali normal.

Bagi banyak pasien, kehilangan rambut bukan sekadar efek samping fisik, tapi juga tantangan emosional. Kini, banyak rumah sakit menyediakan dukungan psikologis, dan beberapa pasien memilih menggunakan wig, scarf, atau topi sebagai bentuk perawatan diri dan penguatan mental.

Jadi, meski rambut rontok adalah bagian dari perjuangan melawan kanker, itu bukan akhir dari cerita. Di balik kepala yang botak, ada keberanian, harapan, dan semangat yang terus tumbuh.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait