Mengapa Lampu Kuning Lebih Boros Listrik?
Sudah bukan rahasia lagi bahwa lampu dengan cahaya kekuningan, terutama lampu pijar, cenderung lebih boros listrik dibandingkan lampu modern lainnya. Tapi tahukah Anda mengapa hal ini terjadi?
Penyebab utamanya terletak pada cara lampu itu menghasilkan cahaya. Lampu pijar bekerja dengan memanaskan seutas kawat wolfram sampai sangat panas, sehingga memancarkan cahaya. Namun, suhu pemanasan yang tidak terlalu tinggi membuat cahaya yang dihasilkan berwarna kuning kemerahan.Keunikan warna ini memang menciptakan suasana yang hangat dan nyaman, tetapi ada konsekuensinya. Efisiensi lampu pijar sangat rendah—hanya sekitar 15 lumen per watt. Artinya, untuk menghasilkan terang yang memadai, lampu ini butuh banyak energi listrik. Sebagian besar energi yang digunakan justru berubah menjadi panas, bukan cahaya.
Bayangkan, dari 100 watt listrik yang digunakan, hampir 90% diubah menjadi panas. Itulah mengapa lampu jenis ini terasa sangat panas saat disentuh. Dibandingkan dengan lampu LED yang bisa menghasilkan 80-100 lumen per watt, lampu kuning tradisional jelas kalah efisien.Karena alasan inilah, banyak negara—termasuk Indonesia—mulai beralih ke lampu hemat energi seperti LED. Selain lebih irit, cahayanya juga bisa disesuaikan, dari putih terang hingga kuning lembut, tanpa boros listrik.
Jadi, meskipun cahaya kuning terasa nyaman di mata, pertimbangkan untuk beralih ke sumber cahaya yang lebih efisien. Selain menghemat tagihan listrik, Anda juga ikut menjaga lingkungan.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.