Mengapa Penderita Stroke Sering Mendengkur Saat Tidur?

Saat seseorang mengalami stroke, tubuhnya bisa mengalami berbagai perubahan, termasuk pada cara bernapas saat tidur. Banyak keluarga yang bertanya-tanya mengapa orang yang pernah stroke jadi lebih sering mendengkur. Jawabannya terletak pada gangguan otot akibat kerusakan saraf pasca-stroke.

Otot lidah dan saluran napas melemah setelah stroke karena impuls syaraf yang mengendalikannya terganggu. Akibatnya, otot-otot di sekitar tenggorokan menjadi tidak sekuat dulu. Saat tidur, otot-otot ini justru semakin rileks—dan pada kondisi normal, ini wajar. Tapi pada pasien stroke, kelemahan ini membuat saluran napas lebih mudah sempit atau bahkan sebagian tertutup.

Ketika aliran udara melewati saluran yang menyempit, terjadilah getaran pada jaringan lunak di tenggorokan. Nah, getaran inilah yang menghasilkan suara dengkuran—sering kali keras dan tidak teratur. Ini bukan sekadar kebiasaan tidur, melainkan sinyal bahwa sistem pernapasan sedang bekerja lebih keras dari biasanya.

Dengkuran pada pasien stroke juga bisa jadi tanda adanya sleep apnea, kondisi serius saat napas berhenti sesaat saat tidur. Gangguan ini meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, kelelahan siang hari, bahkan risiko stroke ulang.

Oleh karena itu, bila orang yang pernah stroke mulai mendengkur keras secara tiba-tiba, sebaiknya segera konsultasi ke dokter. Evaluasi tidur bisa membantu menentukan apakah perlu penanganan seperti terapi napas malam (CPAP) atau latihan otot pernapasan. Dengan penanganan tepat, kualitas tidur dan pemulihan bisa jauh lebih baik.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait