Stres Ternyata Bisa Picu Stroke, Ini Penjelasannya
Sering merasa cemas, tegang, atau tertekan dalam waktu lama? Hati-hati, stres yang terus-menerus bukan hanya mengganggu pikiran, tapi juga bisa membahayakan kesehatan tubuh, termasuk meningkatkan risiko stroke.
Dilansir dari Kompas dan penjelasan dokter ahli stroke dari Cleveland Clinic AS, Dr. Irene Katzan, stres kronis ternyata bisa memicu peradangan yang terus-menerus di dalam tubuh. Peradangan jangka panjang ini, secara perlahan, dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu fungsi jantung serta otak.
Apa hubungan stres dengan stroke? Saat stres, tubuh melepaskan hormon seperti kortisol dan adrenalin yang menaikkan tekanan darah dan detak jantung. Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, tekanan darah yang tinggi bisa memperlemah dinding pembuluh darah, bahkan menyebabkan penyumbatan—dua faktor utama pemicu stroke.
Tak hanya itu, orang yang stres sering kali punya kebiasaan tidak sehat: kurang tidur, makan berlebihan, merokok, atau kurang olahraga. Semua itu memperbesar risiko terjadinya gangguan pembuluh darah otak.
Menurut dr. Irene Katzan, pola hidup yang penuh tekanan tanpa penanganan bisa sama berbahayanya dengan faktor risiko konvensional seperti diabetes atau kolesterol tinggi. Bahkan, stres jangka panjang dikaitkan tidak hanya dengan stroke, tapi juga serangan jantung.
Untuk itu, penting bagi kita semua untuk belajar mengelola stres. Entah dengan meditasi, olahraga teratur, curhat ke orang terdekat, atau mencari bantuan profesional. Kesehatan mental dan fisik saling terikat—jaga yang satu, berarti menjaga keduanya.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.