Kenapa Tinggi Badan Ibu Bisa Pengaruhi Stunting pada Anak?
Tinggi badan ibu ternyata punya peran penting dalam risiko stunting pada anak. Bukan hanya soal nutrisi atau pola asuh, faktor genetik dan lingkungan keluarga juga turut andil. Salah satunya adalah kecenderungan tinggi badan yang diwariskan secara genetik dari orang tua ke anak.
Secara alami, anak dari orang tua yang berpostur pendek cenderung memiliki potensi tinggi badan yang lebih terbatas dibandingkan anak dari orang tua yang tinggi. Namun, ini bukan satu-satunya penentu. Yang lebih penting adalah bagaimana kombinasi faktor genetik dengan kondisi kesehatan dan gizi selama masa pertumbuhan.
Ibu yang pendek, terutama jika disebabkan oleh stunting saat kecil, sering kali memiliki riwayat kekurangan gizi kronis sejak dini. Kekurangan ini bisa berdampak pada pertumbuhan janin saat kehamilan, seperti berat badan lahir rendah atau pertumbuhan intrauterin yang terhambat — dua hal yang menjadi pemicu stunting sejak awal kehidupan.
Selain itu, lingkungan keluarga yang sama—termasuk pola makan, akses layanan kesehatan, dan sanitasi—juga berpengaruh besar. Jadi, meski genetik berperan, stunting bukan tak bisa dicegah. Dengan asupan gizi yang baik sejak masa kehamilan, pemberian ASI eksklusif, MPASI bergizi, dan pengasuhan yang tepat, anak tetap bisa tumbuh optimal meskipun orang tuanya pendek.
Intinya, tinggi badan ibu memang jadi salah satu indikator risiko, tapi bukan takdir. Dengan intervensi yang tepat di 1.000 hari pertama kehidupan, keluarga bisa memutus rantai stunting dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.