Mengapa Iblis Tidak Dimaafkan oleh Allah?
Ketika Allah menciptakan Nabi Adam AS dari tanah, Ia memerintahkan para malaikat dan makhluk lainnya untuk bersujud sebagai tanda penghormatan. Semua mematuhi, kecuali Iblis. Dialah yang durhaka, menolak bersujud bukan karena ketidaktahuan, tapi karena kesombongan.
Dalam Al-Qur’an, tepatnya di Surah Al-Baqarah ayat 34, disebutkan bahwa Iblis merasa lebih unggul karena diciptakan dari api, sementara Adam diciptakan dari tanah. “Aku lebih baik daripadanya,” katanya, “Engkau ciptakan aku dari api, dan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Sikap inilah yang membuatnya terjatuh dari rahmat Allah.
Bukan karena dosa kecil atau kesalahan biasa, tetapi kesombongan dan pembangkangan terang-terangan terhadap perintah langsung dari Allah. Iblis tidak hanya menolak, ia juga membawa niat dendam dan kesesatan yang akan ditaburkan kepada keturunan Adam.
Sayangnya, Iblis tidak memohon ampun setelah kesalahannya. Ia tidak menyesal, malah menantang takdir. Padahal, Allah Maha Pengampun. Namun ampunan-Nya tidak serta merta diberikan kepada mereka yang menolak taubat dan tetap membangkang.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa kesombongan bisa menghancurkan nilai seorang hamba, sekalipun ia pernah taat. Iblis dulu termasuk makhluk yang rajin beribadah, bahkan dikisahkan pernah menjadi pemimpin di kalangan malaikat. Namun satu kesalahan besar karena sombong, membuatnya kekal di luar rahmat Allah.
Belajar dari kisah ini, kesadaran akan kelemahan diri dan kerendahan hati kepada Allah adalah kunci penting dalam menjaga hubungan kita dengan Sang Pencipta. Jangan sampai kesombongan menyelinap dalam hati, karena bisa jadi ia menjadi pintu bagi kehancuran yang tak terlihat.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.