Mengapa Warna Ungu Dulu Dianggap Mewah?

Anda mungkin pernah bertanya-tanya, kenapa warna ungu sering dikaitkan dengan kemewahan atau keluarga kerajaan. Jawabannya ternyata punya sejarah yang sangat menarik—dan cukup mengejutkan.

Di masa lalu, warna ungu benar-benar sulit didapat. Tidak seperti sekarang yang bisa dibuat dengan mudah dari bahan kimia, dulu satu liter pewarna ungu harus dihasilkan dari ribuan ekor siput laut khusus bernama Bolinus brandaris. Siput-siput ini ditemukan di sekitar kota kuno Tyre, yang kini berada di wilayah Lebanon.

Bayangkan ini: untuk mendapatkan sedikit saja cairan berwarna ungu, para pengrajin harus mengumpulkan dan memeras ribuan siput. Prosesnya tidak hanya rumit, tetapi juga menghasilkan bau yang sangat menyengat. Karena itulah, kain berwarna ungu menjadi sangat langka dan mahal.

Karena kelangkaannya, warna ungu jadi simbol kekuasaan dan status tinggi.

Di zaman Romawi dan Bizantium, hanya kaisar atau bangsawan tertentu yang boleh memakai jubah berwarna ungu. Warna ini menjadi tanda kekayaan dan otoritas. Bahkan, frasa “born in purple” atau lahir dalam kemewahan berasal dari tradisi istana yang melahirkan anak langsung di kamar dengan tirai ungu.

Kini, dengan kemajuan teknologi, warna ungu bisa diproduksi secara massal dan terjangkau. Tapi jejak sejarahnya tetap hidup—dalam seni, budaya, dan cara kita melihat warna ini sebagai sesuatu yang elegan dan istimewa.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait