Apa Itu Mabuk Setelah Naik Pesawat? Bukan Cuma Lelah Biasa
Sering merasa lesu, sulit tidur, atau mood berantakan setelah pulang dari perjalanan jauh dengan pesawat? Bisa jadi kamu mengalami yang namanya jet lag, bukan sekadar kelelahan biasa. Istilah ini sering disebut sebagai "mabuk naik pesawat", meski sebenarnya kondisinya lebih dari sekadar mual atau pusing setelah terbang.
Secara medis, jet lag dikenal sebagai desinkronosis atau gangguan ritme sirkadian. Ritme sirkadian adalah jam alami tubuh yang mengatur siklus bangun-tidur, suhu tubuh, hingga hormon. Saat kamu terbang melintasi beberapa zona waktu dalam waktu singkat, tubuhmu belum sempat menyesuaikan diri. Akibatnya, kamu merasa seperti terbangun di waktu yang salah—lapar saat harus tidur, mengantuk saat harus aktif.
Gejalanya bervariasi: mulai dari insomnia, kelelahan siang hari, sulit berkonsentrasi, hingga gangguan pencernaan. Biasanya, gejala ini muncul setelah terbang menyeberangi minimal tiga zona waktu—misalnya dari Jakarta ke Eropa atau Amerika.
Untuk mengatasinya, banyak orang mencoba menyesuaikan pola tidur sebelum terbang, banyak minum air, atau terpapar cahaya alami sesampainya di tujuan. Paparan sinar matahari membantu tubuh "mengatur ulang" jam internalnya. Hindari alkohol dan kafeina berlebihan selama penerbangan, karena bisa memperparah dehidrasi dan gangguan tidur.
Jet lag biasanya membaik dalam beberapa hari, tapi bisa mengganggu aktivitas. Kalau sering bepergian jauh, penting tahu cara tubuh merespons perubahan waktu—agar liburan atau bisnismu tetap produktif tanpa harus 'tertunda' oleh rasa lelah yang tak kunjung hilang.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.