Mengapa Nabi Muhammad Disebut Uswatun Hasanah?

Ada yang bertanya, mengapa hanya Nabi Muhammad yang disebut Uswatun Hasanah—teladan yang baik—padahal para nabi dan rasul sebelumnya juga manusia pilihan dengan akhlak mulia? Pertanyaan ini wajar, karena memang semua nabi diutus sebagai suri tauladan bagi umatnya masing-masing.

Namun, gelar Uswatun Hasanah secara khusus disandang oleh Nabi Muhammad karena beliau bukan hanya teladan bagi satu kaum atau satu masa, melainkan bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Seperti disebut dalam Al-Qur’an, “Sungguh, dalam diri Rasulullah ada teladan yang baik bagi kalian” (QS. Al-Ahzab: 21). Ini menunjukkan bahwa keteladanan beliau bersifat universal dan abadi.

Selain itu, Nabi Muhammad hidup dengan kesederhanaan, penuh kasih sayang, adil, jujur, dan sabar dalam menghadapi cobaan. Beliau menjadi pemimpin, suami, ayah, sahabat, bahkan saat disakiti tetap memaafkan. Kelembutan dan keteguhannya menjadi gambaran sempurna dari akhlak Islam yang seimbang.

Memang, para nabi terdahulu juga memiliki sifat mulia. Namun, Nabi Muhammad adalah penutup para nabi, dan kehidupannya paling lengkap tercatat—baik dari sisi perkataan, perbuatan, maupun persetujuannya. Dengan begitu, umat Islam memiliki panutan yang utuh, dari cara shalat, bekerja, bersosial, hingga menghadapi kesedihan.

Jadi, bukan berarti para nabi sebelumnya tidak baik. Hanya saja, Nabi Muhammad diberi tempat istimewa karena perannya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Akhlaknya bukan hanya untuk ditiru, tapi dijadikan pedoman hidup yang utuh dan menyeluruh.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait