Kapten Abadi yang Menginspirasi

Lionel Messi resmi menjadi kapten tim nasional Argentina pada Agustus 2011, mengambil alih ban kapten dari Javier Mascherano. Sejak saat itu, Messi tidak hanya menjadi pemimpin di lapangan, tapi juga simbol ketekunan dan dedikasi bagi seluruh rakyat Argentina.

Kepemimpinannya langsung diuji saat ia membawa La Albiceleste ke tiga final besar secara beruntun. Pertama, Piala Dunia FIFA 2014 di Brasil. Meski Argentina harus puas sebagai runner-up setelah kalah dari Jerman di final, performa Messi sepanjang turnamen luar biasa. Ia pun dinobatkan sebagai pemain terbaik dengan meraih Bola Emas, mengukuhkan statusnya sebagai salah satu bintang utama turnamen tersebut.

Dua tahun berselang, Messi kembali memimpin tim ke final Copa América 2015 dan 2016. Sayangnya, kedua laga final berakhir dengan kekecewaan—dikalahkan Chile lewat adu penalti. Beberapa kali gagal meraih trofi bersama timnas membuat Messi sempat menyatakan pensiun dari timnas pada 2016, meski kemudian kembali setelah didesak suporter.

Tapi justru dari kegagalan-kegagalan itulah, karisma Messi sebagai kapten semakin bersinar. Ia tak pernah menyerah. Ketekunannya akhirnya membuahkan hasil ketika Argentina keluar sebagai juara Copa América 2021 dan Piala Dunia 2022, menutup cerita panjang perjuangannya dengan trofi bergengsi.

Hingga kini, Messi tetap menjadi ikon yang dicintai—bukan hanya karena kemampuannya, tapi juga karena loyalitas dan semangat kepemimpinannya yang tak pernah padam.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait