Siapa Sebenarnya Penjahat Menurut Kriminologi?

Belakangan ini, pertanyaan soal siapa itu penjahat kerap muncul, terutama dalam diskusi tentang hukum dan perilaku manusia. Dalam kacamata kriminologi, penjahat bukan sekadar orang yang melanggar hukum—tapi juga sosok yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik bawaan maupun lingkungan.

Salah satu pandangan menarik datang dari August Vollmer, pelopor kriminologi modern. Ia menyebut bahwa penjahat adalah orang yang dilahirkan tanpa kemampuan cukup untuk mengendalikan diri. Menurutnya, mereka seolah terlahir dengan kecenderungan untuk bertindak anti-sosial, dan karena itu, sulit bahkan mustahil bagi mereka untuk mengubah perilaku, sekalipun diberi kesempatan.

Pandangan ini mungkin terdengar keras, tapi membuka diskusi penting: apakah seseorang menjadi penjahat karena pilihan, atau karena kondisi yang sudah membentuknya sejak lahir? Vollmer menekankan bahwa bagi sebagian orang, dorongan untuk melanggar aturan begitu kuat sehingga kontrol diri hampir tidak mungkin dilakukan.

Tentu, pandangan seperti ini tidak lantas membebaskan pelaku dari tanggung jawab hukum. Namun, ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap tindak pidana, bisa jadi ada kompleksitas yang lebih dalam—faktor biologis, psikologis, atau sosial yang saling bertaut.

Di Indonesia, pemahaman semacam ini penting untuk membangun sistem peradilan yang tidak hanya menekan kejahatan, tapi juga memahami akar masalahnya. Dengan begitu, pendekatan pencegahan dan rehabilitasi bisa lebih manusiawi dan efektif.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait