Sultan-Sultan Baru di Keraton Cirebon

Sejak Desember 2021, dunia keraton di Cirebon mencatat perkembangan penting. Di tengah kekayaan budaya yang terus dijaga, dua tokoh penting resmi naik tahta dalam lingkungan Keraton Kasepuhan. Prosesi jumenengan—upacara kenaikan tahta—menjadi bukti hidupnya tradisi Kesultanan Cirebon yang masih berjalan hingga kini.

Raden Rahardjo Djali menjadi sorotan setelah secara resmi dinobatkan sebagai Sultan Aloeda II pada 18 Agustus 2021. Ia mengemban amanah di tengah harapan masyarakat untuk terus melestarikan nilai-nilai leluhur. Tak lama berselang, pada 20 Oktober 2021, Pangeran Wisnu Lesmana juga melakukan jumenengan dengan gelar Sultan Jayawikarta III, menegaskan eksistensi Keraton Kasepuhan sebagai pusat budaya dan spiritual di Cirebon.

Keberadaan lebih dari satu sultan dalam satu keraton mungkin terdengar rumit bagi sebagian orang, namun dalam konteks Cirebon, hal ini mencerminkan dinamika sejarah dan silsilah yang kompleks. Setiap gelar diberikan berdasarkan garis keturunan dan pengakuan dari pihak keluarga keraton. Masyarakat setempat tetap menghormati semua tokoh ini sebagai bagian dari tradisi yang hidup.

Meski tak lagi memiliki kekuasaan politik, para sultan tetap memainkan peran penting sebagai simbol kebudayaan dan penjaga adat. Upacara-upacara keraton, seperti Sekaten dan Grebeg Syawal, terus digelar dengan khidmat, menarik minat warga dan wisatawan.

Kehadiran Sultan Aloeda II dan Sultan Jayawikarta III bukan sekadar soal gelar, melainkan kelanjutan dari sebuah warisan yang tetap bernyawa di tengah zaman modern.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait