Yahweh dan Allah dalam Perspektif Islam

Di antara berbagai agama yang mempercayai satu Tuhan, muncul pertanyaan: apakah Allah dalam Islam sama dengan Yahweh dalam tradisi Ibrani? Dalam Islam, Allah bukanlah nama yang diciptakan atau diadopsi dari dewa lain, melainkan nama yang merujuk pada Tuhan Yang Maha Esa—satu-satunya Tuhan yang disembah, tanpa sekutu, tanpa anak, dan tanpa bentuk.

Umat Islam meyakini bahwa Allah adalah nama Tuhan yang telah ada sejak zaman Nabi Ibrahim, bukan sesuatu yang baru atau diambil dari budaya kafir. Bahkan, kata “Allah” digunakan oleh orang Arab Kristen sebelum Islam muncul, sebagai sebutan untuk Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi, menyebut Tuhan dengan nama Allah bukanlah penghujatan terhadap Yahweh, melainkan bagian dari tradisi tauhid yang sama—keyakinan pada satu Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu.

Yahweh, dalam Alkitab Ibrani, merujuk pada Tuhan Israel yang setia dan kudus. Dalam Islam, sifat-sifat Allah—seperti Maha Pengasih, Maha Pengampun, dan Maha Adil—juga mencerminkan sifat ilahi yang dikenal dalam tradisi Ibrani, meskipun bentuk penyembahan dan konsep ketuhanan berbeda. Namun, Islam menolak anggapan bahwa mengganti nama Yahweh dengan Allah adalah bentuk penghujatan. Sebaliknya, umat Islam percaya bahwa mereka menyembah Tuhan yang sama yang dikenal oleh Nabi-nabi sebelum Muhammad—termasuk Musa dan Isa—hanya dalam bentuk yang lebih murni dan tanpa penyekutuan.

Jadi, bukan soal pergantian nama, melainkan soal pemahaman akan keesaan Tuhan. Dalam pandangan Islam, Allah adalah nama teragung yang mencakup semua sifat ilahi, bukan sekadar pengganti, melainkan hakikat dari Tuhan yang satu.

Lihat juga

Artikel mendalam

Topik terkait