Asal-Usul Penciuman Hajar Aswad oleh Nabi Ibrahim dan Ismail
Hajar Aswad, batu yang melekat di sudut timur Ka'bah, memiliki makna mendalam dalam sejarah Islam. Menurut riwayat, batu ini bukan hanya simbol keimanan, tetapi juga menyimpan jejak para nabi. Diyakini bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah orang-orang pertama yang menyentuh dan mencium Hajar Aswad saat membangun Ka'bah atas perintah Allah.
Saat membangun Baitullah, kedua nabi ini bekerja bersama dengan tangan penuh keikhlasan. Ketika tiba waktunya meletakkan Hajar Aswad, mereka menciumnya sebagai bentuk penghormatan dan tanda cinta terhadap petunjuk ilahi. Perbuatan ini kemudian menjadi teladan bagi umat Muslim hingga hari ini.
Bagi jutaan jamaah haji yang datang ke Mekah setiap tahun, mencium atau menyentuh Hajar Aswad adalah bagian dari ibadah tawaf. Meski tidak wajib, banyak yang berharap bisa melakukan ini, bukan karena batunya, tetapi karena makna sejarah dan keimanan yang melekat padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mencium Hajar Aswad, menegaskan bahwa ini adalah sunnah yang penuh hikmah.
Meskipun kerumunan sering membuatnya sulit, jamaah tetap antusias. Bahkan jika hanya bisa melambaikan tangan sebagai isyarat, itu pun dilakukan dengan penuh harap dan rasa hormat. Hajar Aswad bukan sekadar batu hitam—ia adalah saksi bisu dari keteguhan iman sejak zaman Ibrahim hingga kini.
Hingga hari ini, tradisi mencium Hajar Aswad tetap hidup, mengalir dari generasi ke generasi, sebagai ungkapan cinta, taat, dan kerinduan terhadap jejak para nabi.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.