Tinggalkan yang Meragukan, Ambil yang Pasti
Kehidupan penuh dengan pilihan. Setiap hari, kita dihadapkan pada keputusan—yang kecil hingga yang besar. Tapi di antara semua itu, ada satu nasihat yang tetap relevan sepanjang zaman: "Tinggalkan yang meragukanmu, lalu ambillah yang tidak meragukanmu." Ini bukan sekadar saran, tapi petunjuk dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan melalui cucu tercintanya, Hasan bin Ali radhiyallahu anhuma.
Nasihat ini begitu sederhana, namun sangat dalam maknanya. Dalam urusan agama, hubungan, pekerjaan, bahkan komunikasi sehari-hari, keraguan bisa menjadi tanda bahaya. Jika sesuatu membuat hati gelisah, pikiran tidak tenang, atau perasaan tidak nyaman—mungkin itu bukan jalan yang seharusnya kita ambil.
Bayangkan saat kita ragu dengan makanan yang tidak jelas sumbernya. Atau ragu terhadap perkataan yang bisa menyakiti perasaan orang lain. Dalam situasi seperti itu, hadits ini mengajak kita untuk memilih jalan yang lebih aman, lebih baik, dan lebih jelas kebenarannya. Bukan karena takut, tapi karena adanya kesadaran untuk menjaga hati, agama, dan hubungan dengan sesama.
Orang bijak tidak menggantungkan keputusannya pada spekulasi. Ia memilih yang jelas-jelas baik, meskipun sederhana. Dalam dunia yang penuh godaan dan ambiguitas, prinsip ini menjadi pelita. Ia mengingatkan kita: jangan memaksakan diri memasuki yang samar, padahal yang jelas sudah terbentang di depan mata.
Jadi, saat keraguan datang, jangan buru-buru melangkah. Berhenti sejenak. Tarik napas. Pilih yang tenang, yang benar, yang diridai. Karena meninggalkan yang meragukan bukan tanda lemah, tapi tanda kekuatan iman dan ketenangan hati.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.