Menelusuri Latar Belakang dan Identitas Spiritual Amitabh Bachchan
Pertanyaan mengenai agama yang dianut oleh mega bintang Bollywood, Amitabh Bachchan, sering kali menjadi topik yang menarik perhatian para penggemar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu ikon sinema paling berpengaruh sepanjang masa, kehidupan pribadi, prinsip hidup, dan latar belakang keluarga sang aktor legendaris kerap menjadi bahan perbincangan mendalam. Untuk memahami identitas spiritual Amitabh Bachchan secara utuh, kita tidak bisa hanya melihat satu label keagamaan saja, melainkan harus meninjau warisan multikultural yang membentuk keluarganya sejak generasinya terdahulu.
1. Akar Keluarga yang Unik: Perpaduan Budaya dan Keyakinan
Amitabh Bachchan lahir dengan nama Amitabh Srivastava pada tanggal 11 Oktober 1942 di Allahabad (sekarang Prayagraj), Uttar Pradesh, India.
Ayah: Dr. Harivansh Rai Bachchan, seorang penyair sastra Hindi legendaris yang berasal dari komunitas Hindu Kayastha di Uttar Pradesh.
Sang ayah dengan sengaja menanggalkan marga kasta aslinya (Srivastava) dan memilih nama pena "Bachchan" untuk menentang sistem kasta yang kaku di India. Ibu: Teji Bachchan, seorang wanita terpandang yang berasal dari keluarga Sikh di Punjab.
Melalui pernikahan lintas budaya (inter-caste and inter-religious background) ini, Amitabh Bachchan sejak kecil telah akrab dengan dua tradisi besar di India.
2. Pandangan Filosofis: Menolak Batasan Agama dan Kasta
Meskipun secara sosiologis dibesarkan di tengah keluarga berlatar belakang Hindu dan Sikh, Amitabh Bachchan dan keluarganya dikenal sangat progresif dalam memandang persoalan keyakinan. Ayahnya, Harivansh Rai Bachchan, adalah seorang pelopor sekularisme sejati yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mendefinisikan diri berdasarkan agama atau kasta tertentu.
Dalam beberapa kesempatan wawancara publik maupun forum media, Amitabh Bachchan pernah menegaskan prinsip hidupnya yang melampaui sekat-sekat sektarian. Ia sering menyatakan bahwa dirinya tidak termasuk dalam agama atau kasta tertentu—identitas utamanya adalah sebagai seorang warga negara India.
Bagian selanjutnya dari artikel ini akan membahas bagaimana prinsip sekularisme ini diterapkan dalam kehidupan rumah tangganya bersama Jaya Bachchan serta perayaan hari besar keagamaan di kediaman mereka.
Pandangan Personal dan Warisan Sekuler Keluarga Bachchan
Secara silsilah dan kultural, akar keluarga Amitabh Bachchan melekat kuat pada tradisi Hindu. Ayahnya, mendiang penyair legendaris Harivansh Rai Bachchan, adalah seorang tokoh penting yang secara sadar menentang sistem kasta di India. Harivansh memilih nama pena "Bachchan" alih-alih menggunakan nama marga keluarga tradisional yang merujuk pada kasta tertentu, demi menanamkan nilai-nilai humanisme universal kepada anak-anaknya.
Prinsip sekularisme dan kebebasan berpikir inilah yang kerap ditekankan oleh Amitabh Bachchan dalam berbagai kesempatan publik. Ketika ditanya mengenai identitas agamanya, sang megabintang sering menyatakan bahwa dirinya tidak memihak pada satu agama formal tertentu. Ia dengan bangga mendefinisikan dirinya pertama-tama sebagai seorang warga negara India, di atas segalanya.
Toleransi dan Penghormatan Lintas Agama
Sebagai ikon sinema yang menyatukan jutaan penonton dari berbagai latar belakang, kehidupan pribadi Amitabh juga mencerminkan pluralisme India:
Pernikahan Plural: Istrinya, Jaya Bachchan, berasal dari komunitas Bengali dengan latar belakang Hindu, sementara menantu mereka turut memperkaya keragaman kultural di dalam keluarga besar mereka.
Perayaan Hari Raya: Keluarga Bachchan dikenal rutin merayakan berbagai hari besar keagamaan di India—mulai dari Diwali hingga Idul Fitri dan Natal—sebagai bentuk penghormatan terhadap keragaman bangsa.
Pendekatan Spiritual: Dalam banyak tulisan dan refleksinya, Amitabh lebih sering menyoroti pentingnya karma, kerja keras, serta nilai kemanusiaan universal daripada fanatisme kelompok sempit.
Kesimpulannya, meskipun lahir dalam tradisi Hindu, Amitabh Bachchan memposisikan dirinya melampaui sekat-sekat sektarian yang kaku.
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama bereaksi.